Tetiba pengin megulas event ini, secara ada 2 kejadian yang agak ga enak plus karena ada teman posting di fb.
Mendatangi undangan pesta pernikahan, kalau di Solo, istilahnya : jagong. Di kota-kota besar, sistem pesta adalah standing party atau istilahnya (makan) prasmanan. Kalau di Solo, berlaku sistem duduk : semua tamu duduk di kursi, dan makanan disajikan dengan dilayani. Akhirnya muncul istilah : piring terbang 😃 karena oleh pramu saji, piring diserahkan dan oleh yang menerima, kemudian ditransfer ke sebelahnya sampai ujung kursi.
Juga muncul istilah usdek : unjukan (minum), snack, dhahar (menu utama), es, kondur. Ini merujuk pada prosedural makanan yang disajikan, sampai akhirnya "boleh" pulang 😉.
Membahas kasus 1 : Pesta ala standing party / prasmanan.
Semua pasti ada plus minusnya.
Plus :
- Tamu bebas bertemu dan be-ramah tamah dengan sesama tamu yang lain.
- Tamu bebas memilih jenis makanan yang diinginkan (bisa hunting makanan yang disukai dan nambah bolak balik hahaha)
- Tamu bebas datang - dalam batas jam - sesuai kepentingan.
- Durasi waktu relatif cepat.
- Untuk stall / gubug, jumlah makanan harus banyak / berlipat. Rumus yang biasa dipakai pihak catering : 1 tamu akan makan (sekitar) 3 jenis makanan. Kemudian jenis makanan yang favorit (misal : kambing guling), porsi / jumlah nya juga harus lebih banyak.
- Seringnya tamu betah alias ga pulang-pulang, maka bisa terjadi penumpukan tamu.
- Makanan favorit akan menimbulkan antrian panjang.
- Yang among tamu juga segera lenyap, ikut berburu makanan (hahaha)
Aku pribadi, ketika melihat antrian makanan, jadi malas. Rasanya piye ya, tamunya kan bukan kelas orang yang harus antri demi makanan. Ngga banget deh.
Secara umum, menurut saya, ketika sudah niat mantu, ya harus serius. Dalam Islam, diajarkan untuk memuliakan tamu. Padahal punya hajat kan MENGUNDANG TAMU. Jadi sejak awal harus "niat" tadi.
- Undangan, harus betul nama dan gelar dan alamat. Juga jumlah orang yang diundang dan jumlah undangan secara fisik. Bukan 1 undangan untuk rame-rame atau kurang undangan sehingga undangan orang lain dipakai lagi.
- Jumlah undangan dan kapasitas gedung. Jangan sampai berdesakan. Kalau memang tamunya banyak, dan kapasitas gedung tidak memadai, ya pesta 2x. Kadang untuk salaman aja antri, berdiri lama pakai high heels kan ya lumayan. Belum lagi "sesak nafas" dan haus.
- Tempat parkir. Seringnya nyari tempat parkir aja susah banget. Tamu harus parkir jauh, efeknya harus jalan jauh. Lha kalau pesta nya malam, gelap : kalau ibu-ibu kan pasti pakai sarung, jalannya susah dan jauh, belum kalau pakai perhiasan. Yuhhh ...
- Souvenir kadang juga terbatas, kehabisan.
- Rundown acara juga harus clear. Seringnya tamu disuruh lihat deretan foto yang ga penting. Efeknya acara jadi molor dan kacau. Paling sedih kalau lihat tamu sudah pada pulang, jadi gedung kosong, padahal pengantin belum siap untuk salaman di depan. Di Solo, kalau siang : jam 11.30 - 12.00 harus sudah selesai. Malam : jam 20.30 - 21.00 harus sudah selesai. Kalau tidak, dipastikan tamu bakal bubar jalan.
Plus :
- Terutama untuk tamu yang sepuh, maka duduk adalah yang paling enak. Beliau sudah pasti tidak bisa "hunting" makanan kesana kemari. Duduk manis dan diladeni.
- Lebih menghargai tamu, karena mereka dilayani total.
- Melihat prosesi acara (terutama kalau ada upacara adat) dengan jelas.
- Suasana lebih rapi.
- Jumlah pesanan makanan lebih terkondisikan.
- Karena porsi makanan sudah "dijatah", jika terlalu banyak (menurut seseorang), maka seringnya tidak habis / mubazir.
- "Terpaksa" memakan menu yang sudah ada karena sudah "jatah"
- Kurang bisa bersosialisasi dengan tamu yang lain.
- Durasi waktu relatif lebih lama.
- Menyiapkan baju terbaik, dandan maksimal, perhiasan berharga dipakai
- Meluangkan waktu khusus, paling tidak 3 - 4 jam
- Masih harus menyiapkan sumbangan.
Jadilah tamu yang baik juga, jangan asal ambil makanan tapi tidak dihabiskan. Atau mengambil makanan dengan cara asal, sehingga tamu berikut yang akan mengambil, bentuk makanan sudah kacau balau. Ambil secukupnya. Piring kotor diletakkan di tempatnya, jangan asal, seringnya bikin kotor lantai / licin kena kuah yang tumpah.
Btw kata almh Ibu : wong mantu kuwi, elek apik mesti dicacat uwong (orang punya hajat itu, jelek atau bagus pasti jadi omongan orang).
Yah paling tidak, mari dipersiapkan sebaik-baiknya.
#pengalamanjadiEO
Komentar
Posting Komentar