Sekeping surga bernama Raja Ampat (sesi 1)

Libur lebaran th 2019 ini, kami memutuskan untuk trip ke Raja Ampat. secara rencana sudah sejak setahun sebelumnya, karena jauh dan butuh biaya, jadi mesti nabung dan persiapan macam-macam. Nyari travel agent aja ruwet, riset lokasi juga. Kabupaten Raja Ampat, terdiri dari 4 pulau besar : Waigeo, Misool, Salawati dan Batanta. Umumnya orang ke Waigeo (dengan "ibu kota kabupaten Raja Ampat"  yaitu : Waisai), terkenal dengan view di Wayag. Itu juga kami bingung menentukan lokasi tujuan. Akhirnya ketemu putra daerha tempat kita berkonsultasi : dr. Riyanto, teman angkatan mb. Diah waktu di FKUA.

Persamaan : semua indah 😘
Perbedaan : (seperti membandingkan Gn. Bromo - Waigeo vs Gn. Semeru - Misool)
1. Bromo itu destinasi sejuta umat, Semeru lebih eksklusif.
2. Waigeo lebih dekat (penyeberangan hanya 2 jam) sehingga jatuhnya lebih murah, juga jumlah hari lebih pendek (karena tiap hari ada 2x penyeberangan pp)
3. Misool lebih jauh (penyeberangan sekitar 4,5 - 6 jam) sehingga lebih mahal, jumlah hari lebih banyak (karena jadwal kapal tidak setiap hari pp)

Setelah melalui sesi konsultasi, diskusi keluarga dengan berbagai pertimbangan, kami akhirnya memilih : Misool.
Kebetulan adik ipar dr. Riyanto punya travel agent yang bisa urus semua, so lebih mudah dan lebih enak jalurnya. Tanggal ditentukan, mulai berburu tiket pesawat, atur cuti, nabung dll. Itu aja masih pakai drama, sudah beli tiket pesawat pulang, ternyata waktu nya mepet dengan jam mendarat kapal, jadi harus reschedule besoknya. Drama berikut, jadwal kapal berubah, jadi ketika datang di Sorong, tidak bis alangsung nyebrang, baru besoknya. Selanjutnya, mb. Diah ga bisa cuti karena baru dilantik jadi wadek, huaaaaa, terpaksa dia pulang duluan. Halah.

Note : lebaran hari 1 jatuh hari Rabu, 5 Juni 2019.

Day 1, 6 juni 2019, sore hari, kereta Sancaka, dengan jalur Solo - Surabaya, aku sama Dina. Yang lain sudah duluan, karena ke Kediri dulu. Sampai Surabaya, rawon setan dulu, biyuh, antri, padahal sudah jam 23, lha kok ya pada belum makan. Terus beli Mc D untuk sangu besok pagi karena penerbangan uthuk-uthuk.

Day 2, 7 juni 2019. Jam 02.00 WIB sudah bangun utnuk mandi. We lhadalah, yang lain jam 3 baru pada bangun hahaha. Antara mandi ngebut atau ga mandi. Jam 03.15 nyari mobil online kok ya susah. Sudah mulai sutris. Akhirnya jam 03.30 WIB dapat mobil. Cus bandara Juanda, jam 04.00 WIB sampai, Alhamdulillah. Segera check in, sholat Subuh di pesawat, karena sudah segera boarding, jam 04.30 WIB. Jam 05.00 WIB cus Sorong. Ternyata di pesawat dapat sarapan (nasi), lumayan lah. Lucunya adalah, karena penerbangan pagi, maka suasana pesawat sangat sunyi, pada tidur semua, hahaha. Jam 10 WIT (maju 2 jam dari WIB) kita mendarat di Bandara Domine Eduard Osok (DEO), 3 jam penerbangan.


Bandara nya bagus lho. Urus bagasi dulu. Sudah dijemput oleh m. Fachri, cus menuju hotel Mariat untuk naruh barang.
Selanjutnya kita cus menuju Pelabuhan Dome, naik kapal kayu, menuju Pulau Jefman. Jadi harusnya sih : dari bandara kita langsung nyebrang ke Misool, tapi karena perubahan jadwal kapal, besok baru nyebrang, maka hari ini kita trip tambahan di sekitar Sorong.

30 menit penyeberangan pakai kapal, kita sampai di Pulau Jefman, bandara pertama di jaman Belanda. Sekarang sudah tinggal puing-puing. Kita mengeksplorasi pulau : menyusur pantai, masuk ke hutan, melihat bunker Jepang, melihat batu besar (kaya di Belitung), air yang bersih.
Note : hari kamis, aku pusing banget, mungkin kecapekan. Giliran jum'at melihat air laut dan merasakan angin laut, langsung hilang itu pusing huahahahaha.

 
Dari Jefman, kita menuju Pulau Matan, makan siang boooo ... sudah lapar banget. Nasi bungkus dengan nasi super banyak hahaha. Nikmat mana yang engkau dustakan? 
Balik hotel, mandi, istirahat bentar. Makan malam kita adalah : dada tuna. Seperti steak ikan, karena porsi nya besar. Jadi aku makan ga pake nasi. Sambalnya mak nyus, enak tapi pedas.
 
Day 3, 8 juni 2019. After sarapan, jam 09.00 WIT dijemput menuju Pelabuhan Rakyat, naik kapal cepat (express bahari 88) menuju Misool. Jadwalnya sih jam 10 berangkat, eh lha molor, jam 11.30 WIT baru berangkat (biyuh). Kita duduk di VIP. Makan dulu, bekal, rantang plastik ala catering gitu. Disini menunya full ikan dan teman-temannya. Sudah sangu buku untuk baca, snack dan minum. Capek, tinggal tidur. Pendaratan 1 di pelabuhan Folley. Pendaratan 2 di pelabuhan Yellu. Pendaratan 3 di pelabuhan Fafanlap. Kita di turun di Yellu jam 16.30 WIT. Tadi dari Folley ada gelombang besar, wah lumayan deh, terombang-ambing dengan seru. Dina sampai tumpah, walau sudah minum antimo. Aku ga berani buka mata, karena bisa pusing beneran. 
 
 
 
Di Yellu, sudah dijemput speed boat oleh P. Edi Yansyah, yang mengurus perjalanan kita. Dalam perjalanan menuju Raja Ampat Ecolodge, tempat penginapan kita, mampir dulu di batu candi, biar mb. Diah bisa foto.
Dari Yellu menuju ecolodge, hanya 10 menit. Kita tinggal di Pulau Lalelkai. Disini semua berupa pulau-pulau kecil gitu. 
Kita nginap di water cottage, di tepi laut, seru banget. Tiap kamar berupa "rumah" kayu, ada jembatan kayu yang menghubungkan tiap kamar atau ke ruang makan. Di depan ada beranda untuk kita bisa duduk (di kursi atau di papan kayu). Di kamar ada 2 bed plus ekstra 1 kasur, AC, kamar mandi. Tapi karena di pulau, air bersih terbatas dan listrik memakai genset hanya jam 18.00 - 07.00. 
 

Tempat sempurna untuk "escape from the world" terutama karena ga ada signal - no internet connection. Wah, indah banget. Menikmati dan menyatu dengan alam tanpa keributan dunia 😍.
Silakan visit : www.rajaampatecotour.com
IG : rajaampatecolodge
 


Komentar