Bapak. Sekali lagi Bapak.
Aku menulis ini dengan penuh rindu.
Bersambung dari Bapak gerah tg 16 November 2017.
Sabtu - Minggu, 18 - 19 November 2017, Om Djohar ke Solo, menjelaskan terkait putra-nya. So far bapak masih ikut makan siang ke Soto Gading dan makan malam ke Bestik Harjo, walau sebetulnya masih agak tidak enak badan.
Jum'at, 24 November 2017, sore after working hours, aku berangkat ke Surabaya untuk kongres dan reuni Apsilangga. Tg 26 nov masih ada acara di Universitas, HRD gathering, mb. Diah ngabari kalau bapak mau proses opname. Untung jadwal-ku pulang naik kereta jam 13, sampai solo jam 19, ke pantisari, mandi, nyiapin baju dll, langsung ke PKU dan nginap disana. Bapak lemas, ga mau dhahar, badan kesakitan semua. Masih observasi, belum terlalu jelas apa yang membuat kesakitan.
Finally memang liver-nya, kemudian infeksi paru dan lambung, juga ginjal. Kondisi naik turun, secara pengobatan juga tidak bisa agresif karena kondisi fisik yang sudah sepuh. Pengobatan suportif, istilahnya begitu. Dokter sudah warning, agar siap setiap saat, karena ini sudah masa-masa terminal.
Kadang kersa dhahar banyak, kadang ga mau blas. Kadang bisa komunikasi, kadang malas dan hanya pakai bahasa isyarat. Kadang bisa bergerak, kadang harus dibantu untuk miring. Ada banyak yang harus dipelajari : pipis (dari memaksa tetap minta ke kamar kecil, sampai pakai pispot), bahasa isyarat nya, dll. Dalam semalam bergantian shift dengan mb. Diah : antara 22.00 - 02.00 & 02.00 - 05.00.
Kehidupan ku juga berubah total : berangkat kerja dari RS, pulang ke rumah - mandi, makan, nyiapain baju, terus nginap RS. Tidak ada lagi : salon, nonton film, berenang, makan keluar, dll. Total fokus ke bapak. Untung Allah beri kemudahan : Sisca pas sudah masuk dari masa cuti hamil, annual meeting di Yogya sehingga tidak perlu menginap, tidak ada tugas kerjaan yang harus ke luar kota, team rumah dan kantor bisa dihandalkan untuk membantu tugas masing2. Walau serangan ngantuk cukup luar biasa, so far Alhamdulillah.
Hampir sebulan di PKU (27 hari), kondisi agak mendingan, bapak diijinkan pulang. Pulang ke rumah tg 20 Desember 2017. Ada banyak penyesuaian lagi di rumah. Jalur khusus dari rumah ke kamar mandi, kamar mandi nya sendiri (bentuk toilet, pegangan tangan, bak air, dan perlengkapan lain), kamar tidur, kasur, kursi roda, dll. Mulai berburu perawat juga, nyari info ke berbagai pihak. Alhamdulillah lagi, ada saudara yang pernah pakai perawat untuk mertua nya. Tadinya nyari yang laki2 tapi ternyata susah, akhirnya yang perempuan aja tapi yang sudah pengalaman. Sudah tidak bisa ditinggal, harus ada yang jaga 24 jam. Di rumah pun, dengan perawat, aku gantian tidur, karena kadang semalam bapak ga bisa tidur.
Semua mengatakan hal yang sama : yang sabar, yang tabah, ini ladang pahala untuk merawat orang tua yang sudah tua. Insyaa Allah, itu semua menjadi penguat untuk aku. Jujur ada saat dimana aku juga capek banget dan ngantuk banget. Jadi ada hari dimana aku "melarikan diri' untuk pergi berenang, ke salon dan nonton film (sekali doang).
Seringnya yang bikin sedih adalah melihat kondisi bapak yang kadang kesakitan, tapi ga tahu sakit dimana-nya dan harus ditolong dengan cara bagaimana. Berdoa pun jadi bingung kan. Akhirnya doa yang selalu kulantunkan adalah : angkatlah penyakit nya, angkatlah penderitaan nya.
Di rumah, so far membaik, pelan-pelan tapi pasti. Perut kempes, kersa dhahar, bisa jalan walau dipapah. Akhirnya kita ajak makan di luar, lihat kita berenang, biar ganti suasana. Sudah dhahar di meja makan nemeni aku, nguntabke kalau aku berangkat kantor, bisa ngobrol walau sering error / pikun. Alhamdulillah.
Eh lha, tg 16 Februari 2018, kondisi drop lagi : panas dan lemah. Akhirnya kita angkut ke RSUD Moewardi. Diminta masuk ke HCU tapi kita minta di kamar saja. Kenapa ke Moewardi karena dokter ahli hepar, prakteknya disana. Opname selama seminggu, pulang tg 22 Februari 2018. Tapi sejak itu, kondisi tidak pernah membaik.
Mulai Maret, bahkan tidak ada komunikasi, hanya teriak-teriak. Tg 8 Maret aku sempat panik karena teriak kencang dan lama, sampai mb. Diah yang sudah sampai Yogya, balik kanan. Tadinya masih bisa miring sendiri, mulai Maret harus dibantu. Akhirnya pakai pampers karena sudah langsung keluar. Yang parah ketika libur paskah tg 30 Maret, makan sudah mulai di blender karena sudah ga mau ngunyah.
Rabu, 4 April sore cek lab, hasilnya jelek. Malam itu juga kita bawa ke PKU jam 22 pakai ambulance, karena harus diangkut, sudah tidak bisa sendiri. Masuk kamar jam 00. Setelah mendapat penanganan : infus, oksigen (yang masker), dan berbagai tindakan, so far agak tenang.
Kamis, 5 April aku masih tugas ke Magelang, kondisi relatif stabil. Kamis malam mulai di-sonde, kateter juga sudah terpasang.
Jum'at, 6 April dini hari tensi agak drop ke 70. Saturasi (kadar oksigen) naik turun. Aku masih ngantor. Jam 10.49 mb. Diah telp, tensi drop ke 50, aku diminta ke PKU. Untung juga tidak ada pekerjaan yang urgent, langsung aku pamit boss2. Sama P. Ony aku tidak boleh nyetir sendiri, Heri diminta antar pakai mobil P. Ony. Yang lain urus mobil ku dibawa ke PKU. Tadinya aku ga ngabari keluarga dan Sukadana, tapi saat ini aku ngabari mereka, minta doa.
Sukadana juga langsung otw, sudah pada nangis2. Kami juga mintakan maaf untuk kesalahan bapak. Coba dimasukkan obat untuk menaikkan tensi, jam 15 tensi bisa menjadi 80. Aku pulang dulu, mandi dan ambil baju. Habis maghrib balik PKU, gantian mb. Diah yang pulang. Lantunan ayat suci terus kami bacakan. Jam 19.30 alat SPO2 kok tidak stabil, suka hilang angkanya. Aku bilang perawat, mereka mulai sibuk ambil tindakan. Untung kemudian mb. Dewi dan Prita Priska datang, aku ada temannya. Perawat juga telp mb. Diah. Dokter jaga datang, intinya tindakan mereka sudah maksimal, diminta untuk berdoa saja. Tensi di 60, saturasi turun, nadi turun, gula turun, infus mulai susah masuk. Mulai bagi tugas, ada yang mengaji, ada yang membisikkan kalimat thayibah. Keluarga yang di solo mulai ta kabari dan berdatangan. Jam 23 mereka pulang dulu, biar istirahat. Jam 23.30 aku ngglethak dulu, ga kuat. Mb. Diah yang terus bangun.
Sabtu, 7 April jam 02.00 aku bangun, mb. Diah sudah memberi isyarat aku untuk bangun, langsung jenggirat. Nafas nya bapak sudah satu-satu. Tepat jam 02.22 beliau pergi untuk selama-lamanya. Innalillahi wa inna 'ilaihi roji'un. Sugeng tindak bapak.
Ngabari sana sini dan persiapan ini itu. Untung P. Wir langsung datang, juga m. Didik dan mb. Evi, jadi ada yang bantu mikir dan bantu sesuatu.
Pemakaman jam 14, yang melayat bergantian dan banyak, yang men-sholat-kan bergantian dan banyak, kiriman bunga banyak. Alhamdulillah semua lancar sampai selesai, tidak hujan.
Malam lanjut pengajian sampai 7 hari.
Pas 3 hari, eh lha kok bulik-nya bapak nyusul. Pas 10 hari, staff Sukadana gantian nyusul.
Saat ini aku rasanya masih seperti mimpi, belum sepenuhnya menginjak bumi. Even I know that the show must go on, but I still need time for recovery. Rumah semakin sepi. Tiap jum'at dan sabtu rasanya pikiran masih muter ke masa kritis sampai seda.
Tak cukup kata-kata untuk bisa menggambarkan yang kurasakan.
Ya Allah, ampuni dosa Bapak dan Ibu. Ampuni salah khilafnya. Terimalah amal kebaikannya. Luaskanlah kuburnya. Terangilah kuburnya. Muliakanlah tempatnya di-sisi-Mu. Jadikan beliau husnul khotimah. Titip bapak ibu, rawatlah mereka dengan baik, jaga mereka, lindungi mereka. Aamiin YRA.
miss them so much
Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu dalam bentuk apapun, sejak bapak sakit, opname, di rumah, sampai seda dan pemakaman. Alhamdulillah semua membantu dengan ikhlas, karena mereka menjadi saksi kebaikan bapak. Bahkan ustadz Gontor saja sampai 2 kloter, takziah ke Solo. Insyaa Allah semua mendoakan yang terbaik untuk bapak. Sungguh terharu dan "merasa kaya" dengan semua pihak tsb.
Ngabari sana sini dan persiapan ini itu. Untung P. Wir langsung datang, juga m. Didik dan mb. Evi, jadi ada yang bantu mikir dan bantu sesuatu.
Pemakaman jam 14, yang melayat bergantian dan banyak, yang men-sholat-kan bergantian dan banyak, kiriman bunga banyak. Alhamdulillah semua lancar sampai selesai, tidak hujan.
Malam lanjut pengajian sampai 7 hari.
Pas 3 hari, eh lha kok bulik-nya bapak nyusul. Pas 10 hari, staff Sukadana gantian nyusul.
Saat ini aku rasanya masih seperti mimpi, belum sepenuhnya menginjak bumi. Even I know that the show must go on, but I still need time for recovery. Rumah semakin sepi. Tiap jum'at dan sabtu rasanya pikiran masih muter ke masa kritis sampai seda.
Tak cukup kata-kata untuk bisa menggambarkan yang kurasakan.
Ya Allah, ampuni dosa Bapak dan Ibu. Ampuni salah khilafnya. Terimalah amal kebaikannya. Luaskanlah kuburnya. Terangilah kuburnya. Muliakanlah tempatnya di-sisi-Mu. Jadikan beliau husnul khotimah. Titip bapak ibu, rawatlah mereka dengan baik, jaga mereka, lindungi mereka. Aamiin YRA.
miss them so much
Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu dalam bentuk apapun, sejak bapak sakit, opname, di rumah, sampai seda dan pemakaman. Alhamdulillah semua membantu dengan ikhlas, karena mereka menjadi saksi kebaikan bapak. Bahkan ustadz Gontor saja sampai 2 kloter, takziah ke Solo. Insyaa Allah semua mendoakan yang terbaik untuk bapak. Sungguh terharu dan "merasa kaya" dengan semua pihak tsb.
Komentar
Posting Komentar