Beautiful Belitung 28 Juni - 1 Juli 2017

Libur lebaran tahun ini, kami berkunjung ke Belitung. Proses mengatur perjalanan sudah sejak Januari, itupun sebetulnya tidak sengaja, menghubungi travel agent untuk men-check availability tiket, ternyata sudah mulai "waiting list" atau habis pada jam2 tertentu untuk bulan Juni. Akhirnya jadi serius untuk mengurus perjalanan.

Kami berangkat hari Rabu, 28 Juni, Alhamdulillah perjalanan lancar, mendarat di Bandara H.A.S. Hanandjoeddin (nama Bupati periode tahun 1967), Tanjung Pandan. Secara tulisan : Belitong, tapi secara ucapan : Belitung, pengaruh bahasa Melayu. Mungkin karena iklim pantai, walau cuaca cerah, kemudian mendadak hujan cukup deras, tapi juga segera berhenti.

Tujuan pertama, makan siang dulu di daerah Tanjung Kelayang, dengan menu khas : ikan gangan (sejenis sup ikan ala Belitung), seperti sayur asem, manis asem. Kemudian ikan bakar 2 rasa, kecap dan dengan bumbu kuning, juga cumi2. Minum nya adalah jeruk kunci, khas Belitung, buahnya mirip jeruk nipis, tapi warna perasan lebih kuning (bukan putih). Segar asem.

Selanjutnya menuju Pantai Tanjong (tanjung) Tinggi, pantai yang pernah dipakai sebagai lokasi shooting film "Laskar Pelangi" dari buku fenomenal dengan judul yang sama dari pengarang Andrea Hirata. Pantai ini sangat khas, karena tersebar batu-batu yang super besar. Pasir putih, air yang bening, batu besar, cuaca cerah, it's perfect. Banyak lokasi yang sangat bagus untuk mengambil foto, cuma harus antri hahaha karena rame.



Lepas dari Tanjung Tinggi, menuju Tanjung Pendam, pantai di tengah kota yang mempunyai spot bagus untuk melihat sunset. Tiba di saat yang tepat, untuk melihat proses tenggelamnya matahari. Baru setelah itu kami menuju hotel untuk istirahat.



Makan malam, kami diajak ke Warung Makan "Timpo Duluk" sepertinya tempat wajib yang harus didatangi untuk makan, menyajikan tradisi "makan bedulang" dimana makanan disajikan dalam nampan dan ditutupi dengan tudung saji khas, menu sudah di-setting untuk 4 orang : berupa sayur, sambal lalap, ikan teri, ayam ketumbar, sup ikan. Semuanya enak. Karena tempatnya kecil, lebih baik jika Anda reservasi terlebih dahulu, karena selalu penuh. Dekorasi ruang juga unik dengan pernak pernik tempo dulu.


Hari ke-2, island hoping. Menuju Tanjung Kelayang, sebagai "pelabuhan" untuk menuju berbagai pulau yang ada. Pertama kami menuju Pulau Batu Garuda, dimana ada batu besar yang mirip dengan kepala burung garuda. Kemudian menuju Pulau Babi, mulai berbasah ria, turun dari kapal menuju pulau untuk foto2. Selanjutnya ke Pulau Lengkuas, yang terkenal dengan landmark Belitung : Mercu Suar. Dibangun tahun 1882, "adik"nya mercu suar yang ada di Pulau Madura. Sempat turun hujan deras, sehingga semua berteduh di halaman mercu suar. Btw kita hanya bisa naik sampai lantai 4, karena sedang proses renovasi, agak sayang juga sih. Makan siang disini, sambil menunggu hujan reda, karena disertai angin yang cukup kencang.




Kemudian "menjauh" sedikit dari daratan, kita snorkeling di sekitar Pulau Lengkuas, air-nya yang biru hijau memang memanggil untuk segera terjun. Menemukan terumbu karang yang berwarna hijau, cantik. Sayang gelombang agak tinggi, jadi sedikit pusing.
Selanjutnya ke Pulau Batu Layar, batu besar yang agak pipih sehingga mirip layar kapal. 


Dalam perjalanan pulang, mampir ke Pulau Pasir, yang timbul ketika air surut. Sudah menjelang pasang, sehingga "luas pulau" juga mulai mengecil. 
Semua berupa pantai dengan pasir putih, batu yang sebesar gaban, air yang jernih, biru hijau. So beautiful.


Makan malam, di resto - lupa nama-nya, tapi dengan ala ala yang sama "makan bedulang", teri nya enak banget sampai di-gado dengan semangat, sambalnya juga, wuihhh ...

Hari ke-3 kita menuju Belitung Timur. Ada banyak obyek yang bisa kita lihat. Sebelum berangkat, makan mie belitung dulu, yang terkenal adalah Atep, dan kita harus antri untuk makan, eaaa ... Bentuk dan rasanya seperti tahu campur di jawa timur, memang enak sih hehe. Perjalanan ke BelTim sekitar 1 - 1,5 jam, relatif lancar, tidak ada macet. Diawali dengan mengunjungi replika SD Muhammadiyah Gantong, tempat sekolah Andrea Hirata, tempat shooting film Laskar Pelangi. Anda bisa berinteraksi dengan anak-anak disana, mereka sangat ramah dan bersahabat. Kebetulan masih libur sekolah, sehingga seru juga. Kemudian menuju Museum Kata Andrea Hirata (tepat di seberang masjid, karena sudah masuk waktu sholat jum'at). Cukup unik, karena permainan warna yang sangat kontras, sangat inspiratif. Dengan biaya masuk Rp. 50 K, anda akan mendapatkan buku sebagai souvenir. Untuk anak SMP ke bawah dan manula (60 th keatas), tiket masuk gratis.




Selanjutnya menuju Kampung Ahok, di satu sisi adalah rumah adat untuk penjualan souvenir, di seberangnya adalah rumah yang ditempati oleh ibu-nya Ahok, ada toko yang menjual kain batik dengan motif khas Belitung yaitu daun simpor (seperti daun jati, multi fungsi untuk alas makanan, membungkus sesuatu dll).


Route berikut adalah Pantai Nyiur Melambai, beda dengan wilayah barat, pantai timur hampir tidak ada batu besar, hanya pasir putih dan air, seperti pantai di jawa. Lalu kita berkunjung ke Kuil Dewi Kwan Im, terletak agak di bukit, sejauh mata memandang adalah pohon hijau dan laut. Sejuk dan damai seperti umumnya tempat ibadah.



Lanjut ke bendungan Pice, yang dibuat sejak tahun 1933, awalnya berupa sungai buatan, dan masih aktif sampai sekarang.
Terakhir adalah Pantai Burong Mandi, tapi sudah tidak ada burung (bangau) yang mandi hehe.Dalam perjalanan puang, kita di kota Manggar, terkenal dengan sebutan kota 1001 warung kopi, memang ada banyak tersebar warung kopi. Padahal bukan daerah penghasil koi, tapi mereka meracik dengan enak. Kalau memesan, pilihlah kopi yang original, misal kopi susu atau kopi (black coffee), kalau something latte atau cappucino, sudah bukan kopi asli, lebih seperti sachet (instan). Memang mak nyus kopi yang asli.



Hari ke-4, hanya ada 2 obyek, karena waktunya untuk pulang. Yang pertama adalah rumah adat Belitung, berupa rumah panggung dari kayu. Lebih berupa museum, berupa foto2 para Bupati yang pernah menjabat, adat makan  bedulang, alat2 tradisional dapur dan makan, adat pengantin, dll.
Kemudian menuju danau tambang kaolin, masih aktif. Semakin panas, warna air danau akan semakin bagus, karena refleksi sinar matahari, biru nya akan semakin cerah tajam, sementara "wadah"nya adalah tambang putih. Very instagramable. Puas2in foto hahaha.
Terakhir nyoba warung kopi Kong Djie, biar lengkap.



Jam 14 kita sudah di bandara, good bye Belitung, nice memory.
Sayang-nya, seminggu kemudian, kami mendengar berita bahwa Belitung Timur banjir parah, akibat hujan deras terus menerus dan diperparah dengan banyaknya penambangan liar. Menjaga alam memang tidak mudah.

So guys, jangan di rumah saja, Indonesia itu indah, pergilah kemana saja, agar tambah luas wawasan kita.

Komentar