Kakak sepupu dan anaknya punya niat untuk mendaki Gunung Semeru, waktunya entah kapan. Maju mundur, antara pengin ikut, tapi sadar diri karena faktor U dan F (fisik). Akhirnya mencoba memantabkan diri untuk ikut. Akhirnya terkumpul 5 orang (dari keluarga) dan 2 orang (teman kantor kakak sepupu) yang akan berangkat. Tek tok, akhirnya diputuskan berangkat tg 26 - 29 Agustus 2016.
Menyadari sebagai pendaki pemula dan keterbatasan yang ada, aku mulai browsing mencari informasi sebanyak-banyaknya : jadwal umum, jalur trekking, perlengkapan yang harus dibawa, persiapan yang harus dilakukan, dan lain-lain.
Sejak Juni aku sudah berlatih fisik setiap hari (meski bulan puasa sekalipun), antara sit up, push up, angkat beban, jalan dengan membawa beban, jogging. Mulai survey alat-alat, kostum, dll.
Kurang sebulan, komunikasi antar team semakin intens, karena harus koordinasi dan berbagi semangat, plus berbagi cerita-cerita konyol untuk motivasi. Belanja perlengkapan, done :
1. Carrier (pinjam aja, bawa yang 30 lt)
2. Sleeping bag / SB - beli
3. Matras (pinjam)
4. Celana gunung (beli 2, lebih baik dengan bahan polar, lebih hangat)
5. Hem flanel (beli 1, gaya harus tetap jalan duong)
6. Long john (1, sudah punya)
7. Kaos (3 buah)
8. Kaos kaki (3, yang 1 stocking biar hangat)
9. Jaket (sudah punya yang bulu angsa, super hangat)
10. Sepatu gunung (beli, sesuai budget aja, berkisar 300 rb - 1 juta)
11. Topi kupluk (1, sudah punya)
12. Masker (karena medan berpasir)
13. Sarung tangan (2)
14. Jas hujan (yang tipis aja, biar ringkas)
15. Gaiter (1, beli, karena medan berpasir)
16. Senter, lebih baik head lamp
17. Trekking pole / tongkat (beli, sekitar 70 ribu)
18. Tissue basah (yang banyak) dan kering
19. Deodorant (karena pasti tidak mandi minimal 2 hari, wkwkwk)
20. Sunblock
21. Kaca mata putih (melindungi dari debu pasir)
22. Obat2an (diare, demam, anti capek, koyo, vitamin, band aid, pusing)
23. Mukena
24. Snack
25. Minum (saya bawa 4 botol, @ 500 ml, milo kotak untuk energi)
26. Tas kresek (untuk membungkus perlengkapan biar tidak basah / lembab & untuk tempat sampah)
27. Sling bag (untuk barang2 kecil)
Perlengkapan kelompok : tenda dan logistik.
Menjelang berangkat, adaaa aja masalah. 2 minggu sebelum malah demam. 1 minggu sebelum, kelingking kaki bengkak karena kebentur kursi. H-4 kaki sakit karena trekking ringan. Hadeh ...
Jum'at, 26 Agustus, perjalanan Solo - Surabaya, bersama keponakan, dengan kereta Sancaka Pagi jam 07.44 - 11.45, sudah dijemput, istirahat di rumah, sore jam 16.30 menuju meeting point di bandara Juanda. Lanjut perjalanan Surabaya - Lumajang, 19.00 - 22.30. Menginap di hotel Gajah Mada.
Sabtu, 27 Agustus, ba'da subuh, perjalanan Lumajang - Ranu Pani, 2 jam, sebagai pos terakhir sebelum kita harus mulai jalan kaki. Jam 07.00 sampai di Ranu Pani, sudah disambut dengan udara dingin, dari mulut sudah langsung keluar asap.
Ranu pani - pos 1, 07.30 - 08.30 (istirahat sarapan)
Pos 1 - pos 2, 09.00 - 09.30
Pos 2 - pos 3, 09.30 - 10.30
Pos 3 - pos 4 - Ranu Kumbolo, 10.30 - 11.30
(total 10,5 km)
Ranu pani - 3 km - Landengan Dowo - 3 km - Watu Rejeng - 4,5 km - Ranu Kumbolo
Melihat pos rasanya seperti melihat emas, seneng pol hahaha. Ranu Kumbolo, danau yang cantik. Kalau beruntung, bisa melihat sunrise yang indah. Kalau kurang beruntung, akan melihat kabut tebal, yang menambah suasana misterius. Banyak yang nge-camp disana.
Ranu kumbolo - Tanjakan Cinta - Oro-oro Ombo 12.30 - 13.00
Oro2 Ombo - Cemoro Kandang 13.00 - 13.30
Cemoro Kandang - Jambangan 14.00 - 15.00
Jambangan - Kalimati 15.00 - 16.00
(total 7,5 km)
Ranu Kumbolo - 1 km - Oro2 Ombo - 1,5 km - Cemoro Kandang - 3 km - Jambangan - 2 km - Kalimati
Di Tanjakan Cinta, aku berhasil berjalan tanpa melihat ke bawah, sesuai mitos, tapi sayangnya aku tidak membayangkan wajah / nama-nya siapa-siapa wkwkwkwk.
Oro2 Ombo, padang "lavender" yang sedang tidak ungu, karena musim kering, jadi warnyanya coklat.
Kalimati, karena masih sore / terang, sehingga tidak seseram cerita-cerita yang beredar.
Kalimati - Arcopodo - Kelik 16.00 - 18.30, 2 km tapi jalurnya naik terus, tanpa sedikit bonus-pun.
Kita menginap disini, buka tenda, makan malam, dan langsung bergelung dibawah sleeping bag, karena dingin dan capek.
Minggu, 28 Agustus bangun jam 03.30 tapi berangkat summit baru jam 04.30, halah. Alhamdulillah kaki baik2 saja, aku sudah takut kalau sakit dan kaku, karena kemarin berjalan selama 11 jam, gila beneeer ...
Jalur terakhir, menuju puncak Mahameru, adalah yang paling sadis, mendaki dengan terjal, full pasir, jadi melangkah maju sudah pasti merosot turun, benar2 bikin frustrasi dan pengin nangis.Akhirnya aku pakai porter geret, pegangan sarung, digeret sama porter, lumayan cepat, karena mengurangi tenaga, tinggal mengikuti jejak kakinya dia. Kalau ngga, ngga tahu mau sampai jam berapa.
Tadi sempat berhenti di tengah, pas sunrise, wah ... benar-benar amazing. Dimulai dari garis semburat orange, kemudian perlahan-lahan bola bundar keemasan keluar. Di bawah, awan bergulung-gulung. Betapa kecilnya kita di tengah alam yang agung.
Sampai puncak jam 08.30. MAHAMERU !!! Akhirnya sampai juga, setelah melet-melet. Puncak Mahameru, puncak tertinggi para dewa, berupa tanah lapang, full pasir dan batu. Di seberang, ada kawah yang masih aktif, yang terkadang menyemburkan awan bergulung-gulung. Kita foto di "titik nol", ada batu dan bendera merah putih. Rasanya haru, bangga, bahagia.
Tidak bisa berlama-lama, karena jam 09 harus sudah turun, batas waktu peraturan, karena arah angin yang membawa awan dari semburan kawah aktif.
Turan adalah masalah tersendiri, karena kita harus seluncuran pasir. Kalau tadi naik, ujung kaki menancap dan mencari pijakan. Sekarang turun menggunakan tumit dan telapak depan untuk ngerem. Tapi kadang kita ketemu pasir keras, sehingga tersandung. Tidak terhitung berapa kali aku jatuh, bahkan bergulung-gulung. Mandi apsir bener deh, sudah ga karuan semua.
Butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk turun. Langsung "mandi" pake tissue basah, ganti baju, makan, packing dan segera berangkat lagi. Ampyun deh.
Perjalanan turun, harus ngerem dan bertahan dengan lutut. Mulai jam 13, ketika menuju Jambangan, hujan turun, gerimis tapi awet. Harus pakai jas hujan, kalau tidak bisa basah kuyub dan bahaya kalau di gunung, bisa hypothermia. So far perjalanan lancar. Beberapa titik kita mencari jalan baru, dari pada terlalu nanjak (di oro2 ombo - menghindari tanjakan cinta, serta lewat pinggir ranu kumbolo, menyusur tepi danau).
Sampai pos 3, sudah gelap, jalan lumayan licin karena basah, harus extra hati2. Kita tetap dalam rombongan ber-5, masing-masing membawa senter, berjalan menembus kegelapan. Akhirnya jam 20.15 sampai di gapura awal kita datang. Aduuuuuhhhh ... syukur Alhamdulillah, kaki rasanya sudah sakit semua.
Pembagian barang, ke pos ranu pani untuk makan malam. Ketemu soto dan teh manis hangat rasanya seperti di surga.
Terus lanjut Surabaya, di mobil sudah langsung tewas semua. Sampai Surabaya jam 24.30. Antar masing-masing. Aku dan Prita langsung ke Bungurasih, balik Solo naik bis, sekalian yang capek, ntar tewas blek sudah di rumah.
Sampai Solo jam 07.15, dengan badan remuk redam, belum mandi 2 hari, lapar dan ngantuk wkwkwkwk. Tapi sejuta kenangan indah yang tidak akan terlupakan ada di memori masing-masing. Gunung mengajari kita banyak hal : setia kawan, tolong menolong (walau tidak kenal), menghargai yang lemah, tidak bisa sombong, persaudaraan dengan semua orang walau tidak kenal (setiap ketemu orang pasti kita saling menyapa), belajar team work yang selalu bersama, dll.
Yang jelas : betap kecil kita sebagai makhluk Allah, betapa besar kuasaNya. Kalau mengingat kondisiku, sudah pasti tidak kuat, modalku hanya 3 :
- Mohon izin kepada Allah untuk perjalanan ini
- TEKAD yang kuat
- Tidak mudah menyerah
Salam Mahameru teman2, salam persahabatan, mari kita jaga alam ini, Indonesia sungguh indah.
Tadi sempat berhenti di tengah, pas sunrise, wah ... benar-benar amazing. Dimulai dari garis semburat orange, kemudian perlahan-lahan bola bundar keemasan keluar. Di bawah, awan bergulung-gulung. Betapa kecilnya kita di tengah alam yang agung.
Sampai puncak jam 08.30. MAHAMERU !!! Akhirnya sampai juga, setelah melet-melet. Puncak Mahameru, puncak tertinggi para dewa, berupa tanah lapang, full pasir dan batu. Di seberang, ada kawah yang masih aktif, yang terkadang menyemburkan awan bergulung-gulung. Kita foto di "titik nol", ada batu dan bendera merah putih. Rasanya haru, bangga, bahagia.
Tidak bisa berlama-lama, karena jam 09 harus sudah turun, batas waktu peraturan, karena arah angin yang membawa awan dari semburan kawah aktif.
Turan adalah masalah tersendiri, karena kita harus seluncuran pasir. Kalau tadi naik, ujung kaki menancap dan mencari pijakan. Sekarang turun menggunakan tumit dan telapak depan untuk ngerem. Tapi kadang kita ketemu pasir keras, sehingga tersandung. Tidak terhitung berapa kali aku jatuh, bahkan bergulung-gulung. Mandi apsir bener deh, sudah ga karuan semua.
Butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk turun. Langsung "mandi" pake tissue basah, ganti baju, makan, packing dan segera berangkat lagi. Ampyun deh.
Perjalanan turun, harus ngerem dan bertahan dengan lutut. Mulai jam 13, ketika menuju Jambangan, hujan turun, gerimis tapi awet. Harus pakai jas hujan, kalau tidak bisa basah kuyub dan bahaya kalau di gunung, bisa hypothermia. So far perjalanan lancar. Beberapa titik kita mencari jalan baru, dari pada terlalu nanjak (di oro2 ombo - menghindari tanjakan cinta, serta lewat pinggir ranu kumbolo, menyusur tepi danau).
Sampai pos 3, sudah gelap, jalan lumayan licin karena basah, harus extra hati2. Kita tetap dalam rombongan ber-5, masing-masing membawa senter, berjalan menembus kegelapan. Akhirnya jam 20.15 sampai di gapura awal kita datang. Aduuuuuhhhh ... syukur Alhamdulillah, kaki rasanya sudah sakit semua.
Pembagian barang, ke pos ranu pani untuk makan malam. Ketemu soto dan teh manis hangat rasanya seperti di surga.
Terus lanjut Surabaya, di mobil sudah langsung tewas semua. Sampai Surabaya jam 24.30. Antar masing-masing. Aku dan Prita langsung ke Bungurasih, balik Solo naik bis, sekalian yang capek, ntar tewas blek sudah di rumah.
Sampai Solo jam 07.15, dengan badan remuk redam, belum mandi 2 hari, lapar dan ngantuk wkwkwkwk. Tapi sejuta kenangan indah yang tidak akan terlupakan ada di memori masing-masing. Gunung mengajari kita banyak hal : setia kawan, tolong menolong (walau tidak kenal), menghargai yang lemah, tidak bisa sombong, persaudaraan dengan semua orang walau tidak kenal (setiap ketemu orang pasti kita saling menyapa), belajar team work yang selalu bersama, dll.
Yang jelas : betap kecil kita sebagai makhluk Allah, betapa besar kuasaNya. Kalau mengingat kondisiku, sudah pasti tidak kuat, modalku hanya 3 :
- Mohon izin kepada Allah untuk perjalanan ini
- TEKAD yang kuat
- Tidak mudah menyerah
Salam Mahameru teman2, salam persahabatan, mari kita jaga alam ini, Indonesia sungguh indah.









Komentar
Posting Komentar