Liburan dan traveling

Ternyata ada perbedaan arti dari "Liburan" dengan "Traveling". Sama-sama bermaksud untuk jalan-jalan di tempat baru, untuk mendapatkan wawasan baru, tapi beda pernik-perniknya.

LIBURAN. Dikatakan sebagai wisatawan / turis, baik lokal maupun manca (wisnus / wisman). Mereka adalah orang yang melakukan perjalanan secara terencana (transportasi, itinerary, hotel, tujuan wisata, dll), lewat travel agent, dengan guide khusus, dll. Ini dilakukan karena kita hanya mempunyai waktu singkat yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Biasanya tujuan wisata adalah tempat-tempat yang sudah umum sebagai tujuan pariwisata.

TRAVELING (American english) / travelling (British englis). Secara umum dikenal sebagai backpacker (walau tidak harus juga sih). Mereka adalah orang yang melakukan perjalanan - bisa dibilang - "tanpa perencanaan". Pergi ke tempat-tempat yang tidak umum, berinteraksi dengan warga setempat, mempelajari dan "menyerap" kehidupan sehari-hari (bahasa, cara hidup, adat, budaya, kebiasaan, dll). Mereka bisa tinggal berhari-hari / berminggu-minggu di tempat yang sama. Pindah tempat jika sudah merasa cukup "mendapatkan" sesuatu, dan ingin mencari sesuatu yang baru. Tinggal di rumah penduduk atau penginapan yang biasa-biasa saja, naik transport umum, makan bersama di "warung" dll.
 Saya pribadi, masih bersifat "liburan" karena keterbatasan waktu, dll. Masih menjadi cita-cita untuk menjadi seorang "traveller". Ada istilah "slow traveller" dimana mereka melakukan seperti yang saya sebut diatas. Bukan masalah : berapa banyak kota / negara yang sudah dikunjungi, tapi apa yang mereka dapat dari daerah itu. Kehidupan masyarakat, menghirup udara di daerah itu, merasakan angin dan sinar matahari yang ada, merasakan moment-moment yang ada, berinteraksi dengan penduduk, berbahasa lokal, dan akhirnya mendapatkan makna hidup yang baru. 

Saat ini, budayawan dan beberapa elemen masyarakat di Solo, sedang mengusulkan untuk menjadikan Solo sebagai "Slow City", kota yang berjalan dengan ritme dan keseimbangannya / kota yang bisa meletakkan kehidupan pada iramanya sehingga muncul keseimbangan sosial dan hidup yang lebih bermakna bagi penghuninya.
Slow city adalah koreksi atau penyeimbang terhadap pola hidup masyarakat saat ini yang serba cepat, instan, tapi terasa kosong dan kurang makna.

Saya pribadi setuju dengan "jargon" baru ini, karena untuk Indonesia, belum ada yang memulai. Secara "bisnis", ketika traveller tinggal lebih lama di suatu daerah, sedikit banyak roda ekonomi juga akan lebih berputar. Mereka akan membagikan pengalaman-nya kepada orang lain, baik lewat cerita, buku, blog, atau media lain, dan itu akan menjadi sarana promosi yang lebih cepat.

Solo, spirit of Java. Solo masa depan adalah Solo masa lalu. Solo, slow city. Semua nyambung. Sebagai kota budaya, masyarakat yang ramah, dan roda kehidupan yang nyaman, semua mendukung untuk hal itu. 
Tulisan ini saya buat, sebagai warga yang seumur-umur baru hari minggu 17 Juli 2016 kemarin merasakan "car free day". Agak kebangeten memang, karena biasanya hari minggu pagi saya ada acara lain. Minggu kemarin, saya berjalan-jalan, melihat kegiatan yang ada sepanjang jalan : senam aerobic, senam tai chi, para pedagang, kereta kuda, sepeda, kereta bayi, semua berbaur menjadi 1, tanpa mengganggu yang lain, tanpa bersinggungan. So ... indah. Hanya dengan melihat itu semua, hati terasa damai, merasakan aura yang ada.
I love Solo, bangga menjadi warga kota ini. Mari kita jaga kerukunan hidup bersama. Silakan berkunjung ke Solo, semua warga yang ramah akan menyambut Anda semua Kuliner-nya lengkap, dijamin ngangeni (hehe)

Komentar