Bromo - Madakaripura

Kebetulan ada acara keluarga di Surabaya, untuk melengkapi weekend, kami memutuskan untuk trip ke Bromo dan Madakaripura. Ini ke-3 kalinya bagiku mengunjungi Gunung Bromo, tapi baru pertama untuk ke Madakaripura.

Berangkat dari penginapan, jam 14, sudah dijemput dengan mobil elf, kami ber-9, lumayan rame. Di perjalanan full tidur, karena capek dengan acara keluarga. Sampai Hotel Cemara Indah sudah jam 18, check in, pembagian kamar, urusan administrasi, beberes diri, sholat dll. Jam 19.30 kami makan malam di resto hotel, berhubung lapar plus cuaca dingin, semua terasa enak, hehe. Setelah itu, segera istirahat.

Jam 03.00 pintu kamar sudah diketok, membangunkan. Melengkapi diri dengan jaket dan teman2nya, jam 03.30 kami berangkat dengan jeep menuju Penanjakan 2 (Seruni point) untuk mengejar sunrise. Sampai di parkir jeep, harus lenjut dengan berjalan kaki atau kuda. Faktor U, ga pernah olah raga dll, membuat nafas ngos2an, hadeh ... Sebetulnya juga tidak terlalu jauh, juga tidak terlalu menanjak (malu2in juga hehe). Sampai pada suatu titik dimana harus menaiki tangga. Semua demi matahari hahaha.

Setelah lewat perjuangan yang lumayan, sampai juga di Seruni point. Semburat orange sudah mulai nampak. Sholat subuh dulu. Dan ketika sang surya benar2 muncul, air mata ini meleleh dengan sendirinya, Allahu Akbar, indah banget ciptaan-Nya, speechless. Rasanya campur aduk.


Sesudah itu, tinggal mejang mejeng aja, foto sana sini, karena semua sudut tampak indah. Anda bisa foto dengan latar belakang 3 gunung : Batok, Bromo dan Semeru. Kereeen ...


Note :
Ada 2 pilihan untuk melihat sunrise, dengan kelebihan dan kekurangan masing2 :
1. Penanjakan 1 : dimana lokasi agak jauh, jadi berangkat dari penginapan harus lebih pagi. Dari parkiran, jalan menuju lokasi relatif dekat. Tapi karena banyak orang disana, untuk mendapat posisi yang bagus, harus datang lebih awal, dengan resiko kedinginan lebih lama. (kalau tidak, hanya bisa melihat kepala orang, tidak bisa melihat sunrise).
2. Penanjakan 2 : lokasi relatif dekat, sehingga bisa berangkat lebih lambat. Dari parkiran, jalan menuju lokasi agak jauh. Karena belum "terkenal", maka belum banyak orang, sehingga semua bisa mendapatkan moment sunrise dengan baik.

Lepas dari "sunrise", menuju padang savana / bukit teletubies. Karena musim panas, rumput2 jadi kering, warnanya menguning. 


Berikut nya menuju area "pasir berbisik", padang pasir yang menjadi lokasi shooting film Pasir Berbisik, sekarang menjadi area yang "dijual" untuk pariwisata.


Tujuan terakhir adalah kawah Bromo, dimana dari parkiran alternatifnya adalah jalan atau naik kuda. Kami memilih naik kuda, karena sudah capek, plus lumayan jauh. Angin bertiup cukup kencang, jadi pasir beterbangan plus bau kotoran kuda. Sebaiknya memakai masker. Dari titik terakhir, masih harus naik tangga lagi. Lumayan rame, jadi antri. Ngos2an lagi deh.

Sampai diatas, asap belerang sedang naik, membuat perih di mata dan sesak nafas, terbatuk-batuk dan berasa mual. Segera turun, karena situasi tidak kondusif.


Setelah cukup, kami kembali ke hotel, untuk sarapan. Hotel Cemara Indah, tepat di tepi padang pasir, jadi kita bisa sarapan sambil memandang Gunung Bromo langsung. Beautiful.
Mandi dan packing (harus meninggalkan sepatu kets yang setia menemani, karena jebol, perjuangannya berakhir di Gunung Bromo). Jam 11 kami check out.

Hari ini, kebetulan bertepatan dengan Hari Raya Karo, seperti Idul Fitri bagi muslim, dimana mereka berkunjung ke makam leluhur, membuka pintu rumah untuk kunjungan sanak saudara - dimana orang yang berkunjung harus makan (kebayang kalau harus berkunjung ke semua rumah). Rumah yang dihiasi janur / umbul2, adalah penduduk yang merayakan hari raya ini.

Menuju air terjun Madakaripura, sekitar 35 km dari Bromo, kami semua "tewas" kecapekan. Di Madakaripura, "seragam" yang wajib adalah : sandal jepit dan jas hujan. Perlu berjalan 30 menit menuju lokasi. Tapi begitu sampai disana, sensasinya lumayan sip, harus lewat "sungai" sambil "kehujanan" curahan air terjun. Ada 3x kita terkena "hujan". Untuk menuju ujung air terjun, harus melewati "tebing" batu yang sempit dan lumayan ngeri2 sedap. Merasakan udara dingin, air sejuk, terasa nyes di hati. 


Madakaripura, secara legenda adalah tempat bertapa Mahapatih Gajah Mada, dan tempat beliau muksa.
Lepas dari Madakaripura, kami makan siang di Rawon Nguling, mak nyus pokoknya. Menuju Surabaya kembali, dengan sejuta kenangan manis.

Ada sebagian orang yang bertanya, apa enaknya sih naik gunung? sudah capek, susah2, cuma demi melihat matahari. Masing2 mungkin punya jawaban sendiri2. Bagi saya, sunrise, awan dll, itu adalah bonus yang luar biasa. Lebih kepada ujian diri sendiri, pembuktian diri, menantang diri sendiri, seberapa jauh keteguhan hati, seberapa jauh tekad yang ada, dengan ragam tantangan yang ada. 

Paling tidak, selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil dari setiap kejadian. Ada wawasan baru, pengetahuan baru, pengalaman baru.

 

Komentar