Lawu 09 - 10 November 2013


Ada tantangan dari teman-teman : mendaki gunung lawu. Wah ... harus persiapan fisik dulu nih. Sedikit jogging dan jalan kaki. Tapi kayanya masih jauh dari "siap". Beberapa orang meragukan, beberapa keberatan (kalau tidak bisa dibilang melarang). Tapi wong Bapak dan mb. Diah mendukung, jadi ayo aja.

Rencana keberangkatan tg 09 - 10 November 2013, pas hari Pahlawan, dipas-paske aja sih hehe. Berangkat jam 15, pada jemput ke rumah, naik motor. Jemput Dennis di depan SMA Warga. Ketemuan dengan Heri di pertigaan mau ke Bekonang. Mampir karangpandan, memintakan ijin untuk Nita (anak Designer). Dan melajulah kita menuju … Cemara Sewu. Sampai Cemara Sewu jam 17, makan, sholat, persiapan, dan … mulai pendakian. Kita semua ber-11 : Wahyu, Dennis, Nita, Sanjaya, Sapto, Bayu, Agus, Adzim, Heri, Guntur dan aku.



Apa daya, baru sebentar aku sudah menggos. Ransel berpindah bahu, dibawa teman, jaket dilepas karena ternyata sumuk, dibawa orang lain lagi. Aku Cuma membawa diriku, minum dan tongkat. Itupun masih ga karuan nafasnya. Ampun deh. Terpaksa sebentar-sebentar berhenti, mengatur nafas dan minum.

Step by step. Jam 18 dari cemara sewu. Sampai pos 1 jam 19.00. Sampai pos 2 jam 21.30 (istirahat 30 menit). Sampai pos 3 jam 23. Menjelang pos 3, sudah pada bertumbangan, yang muntah, yang kram. Akhirnya kita nge-camp di pos 3. Cuaca cerah, bintang di langit begitu cantik. Pas jalan sih sumuk, giliran berhenti dan “tidur” jadi menggigil. Tapi juga ga bisa benar-benar tidur, karena banyak yang sliwar sliwer dan berbincang-bincang. Pas pagi baru senyap, tapi akhirnya kesiangan. Dari rencana naik jam 4, jam 4.45 baru bangun. Menikmati sunrise di pos 3 deh, juga “atas awan”, Cuma rasanya kurang sip.



Jam 05.15 kita berangkat naik, ber 8. Pos 3  ke 4 berat banget, menanjak. Mana kaki harus penyesuaian lagi. Sampai pos 4 jam 06.15. Sampai pos 5 jam 07.15. Sendang derajat.  Sampai puncak, Hargo Dumilah  jam 07.45. Finally … puncak Gunung Lawu, 3265 mdpl. Alhamdulillah, puji syukur, akhirnya bisa menapak di puncak, langit biru, udara sejuk, puncak bukit yang lain, sungguh … Al A’raaf, puncak tertinggi, Indonesia sangat indah … speechless.




Mengambil gambar secukupnya, kemudian kita turun lagi. Sampai pos 5 kita istirahat selonjor sambil sarapan mie rebus dan teh anget. Lumayan mengisi energy.
Turun gunung adalah perjuangan tersendiri, karena kaki harus ngerem-ngerem, rasanya sampai gemetar. Beberapa kali aku jatuh karena salah pijakan plus rasanya nggreweli.

Sampai pos 3, packing dengan yang lain. Kemudian turun bersama. Masya Allah, ini kaki rasanya kaku banget. Kaya ga kuat aja, tapi lha wong tinggal turun, rasanya awang-awangen.
Sampai pos 1 istirahat agak lama, selonjor kaki. Jam 14 baru turun lagi. Sampai cemara sewu lagi jam 15.00. Jam 15.30 turun ke Solo dengan sejuta kenangan akan perjuangan yang luar biasa untuk aku hehe. 

Untuk sesaat, rasanya kapok untuk naik gunung lagi. Tapi ... besok-besok siapa tahu hehe. Thank you all, sudah setia kawan bersamaku, teman perjalanan yang jadi beban hehe.  


Komentar