Setiap jaman, membawa karakteristik sendiri-sendiri, yang diakibatkan oleh situasi dan kondisi yang terjadi pada saat itu. Contoh : tahun 40 an adalah tahun heroik, tahun perjuangan, tahun persatuan. Tahun 60 an adalah tahun anak muda mencari jati diri dengan berbagai peristiwa demonstrasi, negara ini masih mencari bentuk yang pas. Tahun 80 an era kreativitas yang beraneka ragam, breakdance dsb. Tahun 90 an mulai gonjang ganjing, kegelisahan karena kondisi ekonomi dan politik, puncaknya dengan masa penggulingan pemerintahan yang ada. Tahun 2000 an, mulai milenium, Indonesia masuk era reformasi, sekali lagi masih mencari bentuk yang pas dengan perubahan jaman yang begitu cepat.
Ini semua membawa kepada pembentukan karakter manusia-manusia yang ada di dalamnya. Saya lahir di tahun 70 an, dimana kehidupan masih tradisional, bapak bekerja, ibu di rumah. Permainan masih dengan tetangga, gobak sodor, betengan, engklek dll. Tanpa sadar itu telah membentuk jiwa sosialisasi dan team work. Kasih sayang dan waktu yang melimpah dari orang tua membuat saya "kenyang" secara emosi. Ketika bulan purnama, kami menggelar tikar di halaman rumah, mematikan lampu, berkumpul dengan tetangga, bermain, bernyanyi. Membuat kami menjadi insan yang mencintai alam, menghargai arti keluarga dan mungkin juga melestarikan "mangan ora mangan asal kumpul".
Bisa kita bandingkan dengan situasi ketika permainan "team work" gobak sodor telah tergantikan dengan play station, video game, hp, bb, maka dunia luar telah ter-rampas dari genggaman anak-anak. Mereka hidup di dunia nya sendiri-sendiri. Belum lagi iklan yang begitu konsumtif, biaya pendidikan yang mahal, persaingan hidup dengan mengatas namakan prestasi, dll. Pola pendidikan pun lebih ke hal yang bersifat "teknis" seperti matematika, IPA, dll. Jaman dahulu ada pendidikan khusus tentang budi pekerti. Agama pun mungkin hanya berisi tentang "teknis" ritual, tapi tidak mengajarkan tentang "esensi dasar" dari ritual itu. (bagaimana kita sholat memang penting, tetapi mengapa kita harus sholat, mungkin tidak banyak yang bisa memahami). Orang tua semuanya beekrja, anak hanya diasuh oleh pembantu. Bisa dibayangkan menjadi seperti apa generasi saat ini.
Tidka heran jika saat ini banyak sikut menyikut di dunia kerja, mencari kerja dengan suap menyuap, situasi di jalan dimana orang tidak lagi peduli dengan pengendara lain, berita kriminal dimana nyawa hanya seharga motor atau cincin atau bahkan hal-hal sepele lain, orang begitu mudah bunuh diri karena persoalan yang sepele, lembaga pernikahan yang dilecehkan, perempuan yang dipakai sebagai komoditi, yang kaya berkuasa atas yang miskin, merasa enteng mengambil hak orang lain
Hal yang "lebih ringan" terasa di dalam hal kesulitan penyesuaian diri dengan lingkungan (sekolah atau kerja), kesulitan untuk mengambil inisiatif, kesulitan untuk menghargai orang lain, kesulitan untuk bisa mengerti dan memahami orang lain.
Generasi sekarang telah kehilangan atau tidak mengerti nilai-nilai dasar yang luhur.
Jadi bagaimana harus mensikapi ini semua? Di tengah tuntutan ekonomi yang semakin tidak karuan. That's why Islam meminta para ibu untuk tinggal di rumah dan mendidik anak, karena mereka akan mendidik dan menciptakan generasi yang luar biasa di masa depan. Untuk para orang tua, luangkanlah waktu lebih banyak kepada anak dengan makna yang lebih dalam, tidak sekedar "membayar hutang" hilangnya waktu ketika bekerja dengan jalan ke mall. Tapi lakukan sesuatu yang lebih bermakna kebersamaan. Mulai ada buku tentang "Positive parenting". (terkait dengan tulisan saya terdahulu, dimana memang belum ada "sekolah" untuk menjadi orang tua). Salut and thank's to psychologist yang concern dengan masalah keluarga, karena keluarga adalah tiang agama, tiang negara. Sungguh ini adalah masalah besar yang harus dimulai dari keluarga kecil kita, dengan investasi waktu yang selamanya, demi masa depan yang "belum tergambarkan". Sangat tidak mudah.
Itu semua harus didasari dengan niat kuat, tulus ikhlas, karena ibadah. Karena investasi itu berupa biaya dan waktu yang mungkin tidak akan "balik modal".
Special thank's to my parents, dengan cinta kasih luar biasa yang telah diberikan untuk aku dan mbak-ku. Mohon maaf kalau kami belum bisa membahagiakan. Rasanya "curang" juga kalau kami minta Allah yang membalas kebaikan kalian, tapi sungguh, dengan keterbatasan "daya, dana dan pengabdian" kami, sementara Allah Maha Segalanya, kami akan selalu berdoa memohon kepada Allah untuk membalas semua kebaikan kalian, orang tua tercinta, dengan kebaikan yang berlipat-lipat. Amin.
(tulisan ini kupersembahkan dengan penuh cinta untuk Ibu, pada hari kelahirannya 11 Oktober, wanita yang mulia, semoga Allah mengampuni semua dosa-dosanya, menerima semua amal kebaikannya, meluaskan kuburnya, menerangi kuburnya, dan meletakkan beliau di tempat yang mulia, semoga beliau menjadi khusnul khotimah. Amin.)
Ini semua membawa kepada pembentukan karakter manusia-manusia yang ada di dalamnya. Saya lahir di tahun 70 an, dimana kehidupan masih tradisional, bapak bekerja, ibu di rumah. Permainan masih dengan tetangga, gobak sodor, betengan, engklek dll. Tanpa sadar itu telah membentuk jiwa sosialisasi dan team work. Kasih sayang dan waktu yang melimpah dari orang tua membuat saya "kenyang" secara emosi. Ketika bulan purnama, kami menggelar tikar di halaman rumah, mematikan lampu, berkumpul dengan tetangga, bermain, bernyanyi. Membuat kami menjadi insan yang mencintai alam, menghargai arti keluarga dan mungkin juga melestarikan "mangan ora mangan asal kumpul".
Bisa kita bandingkan dengan situasi ketika permainan "team work" gobak sodor telah tergantikan dengan play station, video game, hp, bb, maka dunia luar telah ter-rampas dari genggaman anak-anak. Mereka hidup di dunia nya sendiri-sendiri. Belum lagi iklan yang begitu konsumtif, biaya pendidikan yang mahal, persaingan hidup dengan mengatas namakan prestasi, dll. Pola pendidikan pun lebih ke hal yang bersifat "teknis" seperti matematika, IPA, dll. Jaman dahulu ada pendidikan khusus tentang budi pekerti. Agama pun mungkin hanya berisi tentang "teknis" ritual, tapi tidak mengajarkan tentang "esensi dasar" dari ritual itu. (bagaimana kita sholat memang penting, tetapi mengapa kita harus sholat, mungkin tidak banyak yang bisa memahami). Orang tua semuanya beekrja, anak hanya diasuh oleh pembantu. Bisa dibayangkan menjadi seperti apa generasi saat ini.
Tidka heran jika saat ini banyak sikut menyikut di dunia kerja, mencari kerja dengan suap menyuap, situasi di jalan dimana orang tidak lagi peduli dengan pengendara lain, berita kriminal dimana nyawa hanya seharga motor atau cincin atau bahkan hal-hal sepele lain, orang begitu mudah bunuh diri karena persoalan yang sepele, lembaga pernikahan yang dilecehkan, perempuan yang dipakai sebagai komoditi, yang kaya berkuasa atas yang miskin, merasa enteng mengambil hak orang lain
Hal yang "lebih ringan" terasa di dalam hal kesulitan penyesuaian diri dengan lingkungan (sekolah atau kerja), kesulitan untuk mengambil inisiatif, kesulitan untuk menghargai orang lain, kesulitan untuk bisa mengerti dan memahami orang lain.
Generasi sekarang telah kehilangan atau tidak mengerti nilai-nilai dasar yang luhur.
Jadi bagaimana harus mensikapi ini semua? Di tengah tuntutan ekonomi yang semakin tidak karuan. That's why Islam meminta para ibu untuk tinggal di rumah dan mendidik anak, karena mereka akan mendidik dan menciptakan generasi yang luar biasa di masa depan. Untuk para orang tua, luangkanlah waktu lebih banyak kepada anak dengan makna yang lebih dalam, tidak sekedar "membayar hutang" hilangnya waktu ketika bekerja dengan jalan ke mall. Tapi lakukan sesuatu yang lebih bermakna kebersamaan. Mulai ada buku tentang "Positive parenting". (terkait dengan tulisan saya terdahulu, dimana memang belum ada "sekolah" untuk menjadi orang tua). Salut and thank's to psychologist yang concern dengan masalah keluarga, karena keluarga adalah tiang agama, tiang negara. Sungguh ini adalah masalah besar yang harus dimulai dari keluarga kecil kita, dengan investasi waktu yang selamanya, demi masa depan yang "belum tergambarkan". Sangat tidak mudah.
Itu semua harus didasari dengan niat kuat, tulus ikhlas, karena ibadah. Karena investasi itu berupa biaya dan waktu yang mungkin tidak akan "balik modal".
Special thank's to my parents, dengan cinta kasih luar biasa yang telah diberikan untuk aku dan mbak-ku. Mohon maaf kalau kami belum bisa membahagiakan. Rasanya "curang" juga kalau kami minta Allah yang membalas kebaikan kalian, tapi sungguh, dengan keterbatasan "daya, dana dan pengabdian" kami, sementara Allah Maha Segalanya, kami akan selalu berdoa memohon kepada Allah untuk membalas semua kebaikan kalian, orang tua tercinta, dengan kebaikan yang berlipat-lipat. Amin.
(tulisan ini kupersembahkan dengan penuh cinta untuk Ibu, pada hari kelahirannya 11 Oktober, wanita yang mulia, semoga Allah mengampuni semua dosa-dosanya, menerima semua amal kebaikannya, meluaskan kuburnya, menerangi kuburnya, dan meletakkan beliau di tempat yang mulia, semoga beliau menjadi khusnul khotimah. Amin.)
Komentar
Posting Komentar