Minggu, 06 Oktober 2013, ada acara piknik kantor ke Yogya, karena harus berangkat pagi sementara buat aku sarapan itu wajib, maka sebelum ke kantor, mampir dulu mengisi perut di perempatan Warung Pelem, bubur kacang hijau dan ketan hitam.
Pak X, langganan Bapak, berjualan tiap pagi mulai jam 05.00 - 07.00 kalau hari kerja, karena numpang di halaman depan toko, sementara kalau toko sudah buka, maka dia harus pergi. Kalau minggu, jam kerja pak X bisa lebih panjang, karena toko tutup, sehingga tidak mengganggu operasional toko.
Pagi itu, seperti biasa, pembeli datang dan pergi, baik makan di tempat atau dibungkus dan dibawa pulang. Semangkuk bubur seharga Rp. 3.000,-. Kalau menu favorit Bapak, hanya bubur kacang hijau, kalau aku suka yang dicampur, antara kacang hijau dan ketan hitam.
Sambil menikmati udara pagi yang sejuk, langit biru yang bersih dan cerah, semangkuk bubur hangat, ahhhh ... Nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan? Bahagia itu sederhana ...
Tiba-tiba lewat seorang pengemis cacat (tangan dan 1 mata), oleh pak X pengemis itu diberi uang Rp. 500,- aku langsung kagum sesaat plus malu, karena biasanya kita ngasih pengemis paling cuma Rp. 100,-.
Kemudian lewat lagi seorang tua yang berpenampilan pengemis juga, membawa uang recehan Rp. 100,- dalam jumlah yang tidak jelas. Pak tua itu bermaksud untuk membeli bubur, dilayani oleh pak X. Ketika akan membayar dengan uang recehan tersebut, ditolak oleh pak X alias bubur itu gratis. Rasanya aku jadi tidak bisa menelan makanan yang ada di mulutku, karena tercekat. Dengan penghasilan yang tidak seberapa, pak X masih dengan ikhlas bersedekah dan membantu orang-orang yang lebih tidak beruntung dari dia. Sementara di dunia luar sana, ada yang sudah berlimpah ruah masih harus korupsi untuk memuaskan hawa nafsu dunianya.
Ketika ada pembeli lain yang menanyakan kemana anak yang biasa membantu, hanya dijawab : sedang masuk angin (meski kenyataannya sedang opname di RS). Betapa pak X tidak ingin memamerkan "penderitaan" hidupnya. Dia cukup tegar dengan semua masalahnya sendiri.
Pengin nangis saking terharunya, melihat potret kejujuran dan keikhlasan yang nyata dari orang yang sederhana. Sungguh ... itu adalah pendidikan yang bagus di universitas kehidupan ini. Alhamdulillah bahwa aku bisa mendapat pelajaran berharga itu hari ini.
Semoga Allah selalu melindungimu, pak, memberi kemudahan dan kelancaran dalam semua urusan, diberi rezeki yang halal dan barokah, amin ...
"Nikmat Tuhan
BalasHapusmanakah yang engkau
dustakan? Bahagia itu
sederhana"
itu kata" yg paling ngena bgt bu dian. Kapan" ijin mau tak bikin status tu kata".....hehehe