Impian

Setiap orang memiliki impian, tapi mungkin banyak yang takut "memelihara" mimpi itu dan berusaha mewujudkannya. 

Mungkin kita mulai dengan pengertian cita-cita dan mimpi, karena bisa jadi beda-beda dikit lah. Tapi ini menurut pendapat saya lho ya. Cita-cita adalah keinginan yang kira-kira bisa kita capai (misal : jadi dokter, jadi tukang insinyur, dll). Sedang impian adalah keinginan yang "out of the box" dan mungkin agak sulit tercapai (misal : ingin ke bulan, ingin keliling dunia, dll). Karena merasa bahwa impian itu sulit untuk diwujudkan, maka banyak orang takut bermimpi. Mimpi hanya sebatas bunga tidur, tidak diwujudkan dalam sketsa atau design yang lebih nyata.
Padahal mimpi yang "dipelihara" bisa mengarahkan kita (sadar atau tidak sadar) menuju ke perwujudan nyata.
Terlebih di jaman yang semua serba mungkin. Perkembangan teknologi, perkembangan dunia yang luar biasa pesat, saat ini tidak ada hal yang tidak mungkin.

Contohnya ya saya sendiri lah, dari pada cari contoh jauh-jauh. The big dream adalah keliling dunia. Berawal dari film "While you're sleeping", dimana ada pernyataan sederhana : ingin memenuhi passport dengan stempel dari berbagai negara. Rasanya kok menarik ya? Tapi kan butuh biaya yang luar biasa besar dan saya mau pergi dengan siapa dan bagaimana, bla bla bla. Tapi impian itu saya pelihara, dan pastinya dengan ijin dari Allah, kok ya ada aja jalannya.
Btw, ga sekedar memenuhi passport dengan stempel lah. Kalo saya sih senangnya mengunjungi negara yang punya high culture, pastinya ada banyak yang bisa dipelajari dan untuk menambah wawasan. Atau negara yang punya keindahan alam yang luar biasa. Intinya semua untuk memuji kebesaran Gusti Allah untuk semua ciptaan-Nya. Yang paling utama tentu saja untuk memenuhi panggilan Allah dalam rangka menyempurnakan ibadah.

Akhirnya, mayoritas alasan yang terjadi adalah mengunjungi kerabat hehe. Ke Australia karena sahabat dekat kuliah disana, jadi bisa nebeng apartemen dan makan (thank's Nyit). Ke China karena ada sepupu bertugas di Kedubes Indonesia di Beijing, jadi selain apartemen dan makan, juga transport dan guide gratis (matur nuwun m. Oemar dan mb. Dewi). Ke Singapore karena kakak ambil short course (thank's Sis). Kalo yang urusan ibadah sih, itu "dibayari" Gusti Allah, karena ya ... ada rejeki lebih (bonusnya dapat beberapa negara lagi).

Next trip, belum tahu lagi, tapi saya akan tetap memelihara mimpi itu dan berusaha untuk mewujudkannya.
Ada istilah "slow traveller", kayanya menarik. Jadi kita tidak sekedar berkunjung, melihat obyek, kemudian pergi begitu saja. Untuk slow traveller, kita tinggal agak lama, berinteraksi dengan penduduk, menyerap nafas kehidupan mereka dan memahami serta mempelajari budaya mereka. Semoga ...
(sssttt ... ada sepupu yang di Amsterdam, hmmm .... terbayang keukenhoff deh ...)

So guys, jangan pernah takut untuk bermimpi, "seaneh" apapun mimpi itu (asal positif lho ya), yakin aja bahwa Allah akan menjadikan mimpi itu nyata.

I have a dream .... (Westlife mode on)

Komentar