Hormat, salut, kagum luar biasa pada para mudiker. Gimana ngga coba, perjalanan panjang lebih dari 24 jam (dari normal 12 jam) dijalani dengan berbagai rasa, antara capek, kesal, jengkel, tapi mungkin juga menikmati (dengan terpaksa hehe). Semua demi pulang kampung untuk merayakan Idul Fitri bersama sanak saudara.
Sumber kemacetan bisa berupa jalan yang bottle neck, lampu merah, ada "potongan" jalan, perbaikan jalan, atau ada kendaraan yang mogok, ban bocor, antri penyeberangan, dll. Kadang sumber kemacetan tidak diketahui dengan jelas. Tiba-tiba lalu lintas berhenti grak, tidak bergerak sesenti-pun, selama berjam-jam. Masih ditambah dengan orang-orang yang tidak sabar dan tidak disiplin, menyerobot, tanpa mengindahkan keselamatan diri dan orang lain, yang penting bisa segera melalui kemacetan dan segera berjalan.
Pemandangan mudik-pun bermacam-macam. Dari transportasi umum (bis, kereta, kapal) - pesawat ga masuk hitungan karena nyaman-nyaman aja - kendaraan pribadi (mobil, sepeda motor), serta kendaraan "jadi-jadian" (pick up terbuka yang diberi tenda terpal).Untuk kendaraan umum, pasti membawa tas-tas besar, kardus, buntelan-buntelan. Yang kendaraan pribadi, kalau mobil, bagasi bisa rapi di belakang atau diatas kap dengan ikatan tali temali yang saling silang. Untuk sepeda motor, diberi "bagasi" tambahan, dengan menambah bilah kayu atau besi dibelakang, untuk menaruh tas. Anak yang besar didepan, bapak yang pegang kemudi, di belakang ibu sambil menggendong anak yang kecil. Untuk kendaraan "jadi-jadian", semua duduk bersila atau menekuk kaki di bak belakang, bersandar pada teman yang lain, barang-barang bertumpuk di sekitar, beratap tenda terpal. Kebayang kalau siang panas-nya luar biasa dan kalau malam dingin-nya juga luar biasa, belum lagi angin yang menerpa.
Seperti iklan "3 hari 3 malam", maka kondisi penumpang-pun bermacam-macam. Ada yang membuka baju karena gerah, ada yang kipas-kipas, bau minyak angin yang menyebar, rambut diikat keatas dengan jepit "kamar mandi", dll. Tapi kostum yang pas kurang lebih sama : celana panjang / pendek, kaos dan sandal jepit. Itu "seragam" paling nyaman sedunia.
Sungguh suatu ujian yang komplit. Baik dari segi fisik, mental, psikologis. Menahan lapar, capek, harus sabar, menahan diri untuk tidak marah, harus tepa selira dengan orang lain. That's why saya sungguh kagum dengan perjuangan mereka yang luar biasa.
Kejadian ini selalu berulang setiap tahun. Untuk itu saya rasa perlu membuat strategi khusus untuk mudik, sehingga tidak terjebak pada permasalahan yang sama. Pemilihan waktu mudik menjadi point utama. Kemudian jalur yang dipilih, harus mempunyai banyak referensi jalur alternatif. Kemudian persiapan yang perfect, dalam hal kondisi kendaraan yang prima, perbekalan yang cukup dan memadai, asupan energi yang baik. Sehingga kita bisa menyebut diri "smart mudiker". Diatas semua itu memang niat bersih untuk ibadah, sehingga ujian kesabaran menjadi lebih ringan, apalagi secara fisik kita agak lemah karena puasa. (moga-moga yang mudik tetap puasa).
Well, ada teman yang bilang, ternyata kemacetan di Jakarta bisa diatasi dengan 1 kata : Lebaran. Hahaha. Dan joke yang umum, bekerja dan menabung 1 tahun, habis dalam 2 hari untuk : Lebaran. Begitulah ...
To all my brother and sister, para mudikers, teruskan perjuangan-mu, jangan pantang menyerah, asal diniati untuk ibadah, semoga Allah memberi kemudahan, kelancaran dan keselamatan dalam perjalanan Anda semua. Sungguh luar biasa ... !!!
Dan untuk semua lisan, tulisan dan tindakan yang tidak berkenan di hati, mohon maaf sedalam-dalamnya, semoga kita menjadi insan merdeka yang kembali fitri.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H.
Komentar
Posting Komentar