Tahun Baru

Kita di indonesia mengenal 4x tahun baru.

1. Tahun baru Islam, 1 Muharam / Tahun baru Jawa, 1 Sura. Penetapannya berdasarkan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Medinah. Tahun baru Hijriyah mengandung makna hijrah dari sesuatu yang tidak baik menuju sesuatu yang lebih baik. Untuk itu kegiatan yang tepat untuk memperingati tahun baru Hijriyah adalah muhasabah alias introspeksi diri, apa yang sudah kita lakukan di masa lalu? apakah sudah baik? mana yang belum baik dan harus diperbaiki? apa yang harus kita lakukan di masa yang akan datang, agar menjadi lebih baik? Pertanyaan2 seperti itulah yang harus dijawab oleh diri sendiri. Tahun baru Hijriyah mengambil bulan sebagai patokan perhitungan. Sejalan dengan itu, kalender jawa yang juga menggunakan bulan sebagai patokan perhitungan, mempunyai istilah sendiri yang terkenal dengan 1 sura-nya. Sebetulnya kurang lebih sama dengan dalam agama Islam, dimana peringatan tahun baru 1 sura dilakukan dengan tapa bisu dan laku, alias hening untuk melihat kedalam diri dan menghindari hiruk pikuk dunia. Hanya saja saat ini ritual budaya jawa tersebut kadang disalah artikan. Arakan kebo bule yang dilakukan di tengah malam, dinanti untuk mendapatkan kotoran kerbau yang dianggap berkah. Sebetulnya budaya jawa adalah budaya yang sarat dengan perlambang dan filosofi tinggi. Tapi tentu saja perlambang itu jangan diambil mentah begitu saja, harus dengan pemahaman yang dalam dan benar. Sesaji yang berupa berbagai hasil bumi menunjukkan rasa syukur kita atas "panen" (alias rejeki) yang melimpah yang diberikan kepada kita. Tumpeng dengan bentuk kerucut tinggi adalah perlambang rasa syukur tadi yang ditujukan HANYA kepada Allah SWT, Tuhan yang 1, yang berada di"atas". Kerbau bule ("putih") adalah perlambang bahwa kita harus selalu bersih dan suci dalam menjalani hidup ini. Sedang kotoran yang dianggap berkah tadi, lebih berarti sebagai pupuk mengingat masyarakat kita adalah masyarakat petani (dengan hasil bumi dalam sesajen tadi).

2. Tahun baru Masehi, 1 Januari. Menggunakan matahari sebagai dasar perhitungan. Berdasarkan agama Nasrani, atas dasar kelahiran Nabi Isa AS. Kalender masehi adalah kalender yang dipakai umum masyarakat dunia. Tahun baru ini pada umumnya diperingati dengan hingar bingar, menunggu tepat pukul 12 malam saat pergantian tahun dengan pesta, terompet dan semua suara yang hiruk pikuk, menyambut kebahagiaan dan semangat menghadapi tahun yang akan datang.

3. Tahun baru Imlek, untuk warga Tionghoa, berasal dari agama Konghucu, merupakan tahun baru kalender pertanian. Imlek memang perayaan menjelang masa tanam, sehingga biasanya memang jatuh pada musim hujan. Umum dipahami orang, ketika imlek dan hujan turun dengan deras, maka "dipastikan" rejeki akan mengalir deras. Imlek dimaknakan dengan prosperity / kemakmuran, dilambangkan dengan makanan (kue keranjang dan jeruk lokam) serta finansial (bentuk uang emas model chinese). Imlek juga menggunakan bulan sebagai dasar perhitungan. Perayaan imlek berlangsung sampai tg. 15 yang umum mengenal adanya "cap go meh", dan makanan yang terkenal adalah lontong cap go meh.

4. Tahun baru Saka / Nyepi, untuk yang beragama Hindu. Dimulai pada masa Raja Kanishka I dari Suku Saka di India, ketika beliau berhasil menyatukan semua suku yang ada yang sering bertikai pada waktu itu. Oleh karena itu tahun baru Saka diartikan sebagai kebangkitan, pembaharuan, kebersamaan, toleransi, kedamaian dan kerukunan nasional. Hari raya Nyepi diperingati dengan berbagai ritual yang intinya juga untuk introspeksi diri dan menjauh dari urusan dunia. Kita mengenal adanya kegiatan catur brata penyepian : amati geni, amati karya, amati lelungan dan amati lelanguan. Biasa diperingati masyarakat Bali, dimana 24 jam pulau itu terisolir dari dunia luar.

Dari semua "jenis" tahun baru yang ada, pada dasarnya mempunyai makna yang kurang lebih sama ; meninggalkan masa lalu (sesuatu yang tidak baik), menyambut hari baru (menuju sesuatu yang lebih baik), berharap yang baik (cita2 dan rejeki yang baik), dan menghadapinya dengan semangat yang baru.
Perkara bagaimana orang merayakannya, itu adalah hak masing2, apakah dengan pesta hingar bingar atau merenung dan bersujud kepada Yang Maha Kuasa. Semua kembali kepada pribadi masing2.

So ... may dear friend, happy new year, new hope, new spirit ...

Komentar