Sabtu, 24 September 2011, akhirnya sampai juga pada wisuda dan sumpah pengukuhan. Sungguh suatu perjalanan panjang dan berliku.
Sejak dahulu kala ketika lulus S1, dalam suatu kesempatan umroh, aku berdoa kepada Allah mohon petunjuk antara 3 pilihan, mana yang lebih dulu harus aku jalani : bekerja, menikah atau sekolah lagi. Ternyata jalan yang terbuka adalah bekerja terlebih dahulu. Kemudian ketika ada dana, Ibu menginginkan aku untuk sekolah lagi. Tapi minta ijin agar dana itu bisa aku pakai untuk menunaikan ibadah haji, karena aku belum menemukan alasan perlunya aku sekolah lagi (hehe).
Berawal dari februari 2008 ketika mendapat undangan untuk menjadi pembicara di kampus Psikologi UNAIR. Dibanding dengan pembicara yang lain, perasaan kok aku yang paling bodo hahaha. Pulang dari Surabaya, mendapat sms dari kakak kelas yang minta doa karena mau ujian thesis. Rasanya seperti mendapat inspirasi dan tantangan baru. Kebetulan juga lagi merasa bosan dan butuh sesuatu yang baru. Akhirnya cari info dulu kesana kemari, untuk kelengkapan data. Setelah itu berdoa lagi, mohon ijin dari Allah untuk aku bisa sekolah lagi, karena aku percaya, kalau Allah mengijinkan, berarti semua jalan akan terbuka dengan sendirinya. Tanda pertama dan yang penting adalah aku diberi kemantabnan hati untuk melangkah. Selanjutnya baru aku menjajagi urusan yang lain, dari masalah finansial, ijin dari perusahaan, ijin Bapak, dll. Ternyata tidak mudah. Finansial sih oke, aku hanya harus mengatur cash flow pribadi, karena tidak lagi ada subsidi hehe. Ijin prinsip dari Bapak oke, tapi malah ribut masalah transportasi karena jauh, sementara aku harus wara wiri rumah - kantor - kampus. Butuh extra energi untuk memberi penjelasan hehe. Ijin dari kantor juga tidak mudah, karena jam kuliah yang padat, berarti aku banyak tidak masuk bekerja, belum lagi pendapat orang-orang yang mempertanyakan perlunya aku sekolah lagi untuk apa. Kembali ke laptop, selama Allah mengijinkan, pasti ada jalan, dan memang begitu kenyataannya. Semua harus ada pengorbanan pastinya, baik dari extra budget, extra waktu dan extra energy.
Mulailah bulan Syawal atau Agustus 2008 resmi menajdi mahasiswa S2 program Magister Psikologi Profesi di Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Kembali ke kampus lagi setelah sekian lama (lulus tahun 1995), rasanya campuran. Antara happy banget, aneh (karena lingkungan baru plus aku paling tua) dan semangat yang menggebu. Tapi karena tekat sudah bulat, hal-hal yang tidak perlu dipikir ya aku singkirkan saja, daripada menghalangi dan menghambat langkah. Tantangan dan hambatan berjalan seiring sejalan. Penyesuaian waktu antara bekerja dan kuliah, bagaimana menghadapi gunjingan orang-orang, extra waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas, terutama kalau pas banyak tugas / ujian sementara pekerjaan juga lagi padat, wah bisa melet-melet hehehe.
So far sampai februari 2010, semua berjalan lancar, on schedule. Mulai mengerjakan thesis, baru alokasi waktunya berantakan. Sebenarnya sih selesai total bulan November 2010, tapi masih ini itu, plus kena thypus, menunggu jadwal ujian dll, baru mei 2011 bisa ujian akhir, itupun gagal pula. Waduh ...
Faktor utama kegagalan adalah karena ujub, over self confidence, jadi sombong. Harus reset dulu, mundur selangkah untuk maju dan melompat. Umroh dulu, untuk mendapat pencerahan lahir batin. Akhirnya ujian lagi tg 18 Agustus 2011 / Ramadhan 1432 H dan lulus ... dengan nilai A bulat (istilah p. Yadi). Alhamdulillah ... !
Begitupun perjuangan belum selesai, karena mengejar jadwal wisuda tg 24 September, maka aku cuma punya waktu maksimal 1 bulan untuk menyelesaikan semua persyaratan, mana harus kepotong libur lebaran selama 1 minggu. Hayah ... benar-benar marathon untuk segala sesuatunya. Mengejar tanda tangan para dosen, bolak balik ke yogya, sampai pulang jam 23, demi tercapai finish yang benar-benar finish.
Suka (ketemu teman baru, makan bersama di kantin, buka bersama, saling dukung sesama teman, dll) dan duka (cemooh-an orang-orang, membagi waktu antara bekerja dan kuliah, pekerjaan dan ujian, complain ke dosen, ngomel ke TU, jadwal yang tidak jelas, dll) bergiliran mewarnai perjalanan proses pendidikan yang aku jalani.
Alhamdulillah, dengan ijin penuh dari Allah, restu Bapak, dukungan dari saudara, Boss2, dosen pembimbing, teman2 kampus, teman2 kantor, semua bisa terlewati dengan senyum mengembang. Dan puncak acara pada Sabtu kemarin, ketika kami mengucapkan sumpah profesi dan wisuda ke-magister-an, rasanya semua banting tulang terbayar sudah.
Terima kasih untuk untuk semua pihak yang sudah dengan penuh kasih sayang menemani dan membantu selama masa studi ini. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian dengan limpahan rahmat dan barokah yang seluas-luasnya. Amin.
Next question is : what is the next challenge?
Sejak dahulu kala ketika lulus S1, dalam suatu kesempatan umroh, aku berdoa kepada Allah mohon petunjuk antara 3 pilihan, mana yang lebih dulu harus aku jalani : bekerja, menikah atau sekolah lagi. Ternyata jalan yang terbuka adalah bekerja terlebih dahulu. Kemudian ketika ada dana, Ibu menginginkan aku untuk sekolah lagi. Tapi minta ijin agar dana itu bisa aku pakai untuk menunaikan ibadah haji, karena aku belum menemukan alasan perlunya aku sekolah lagi (hehe).
Berawal dari februari 2008 ketika mendapat undangan untuk menjadi pembicara di kampus Psikologi UNAIR. Dibanding dengan pembicara yang lain, perasaan kok aku yang paling bodo hahaha. Pulang dari Surabaya, mendapat sms dari kakak kelas yang minta doa karena mau ujian thesis. Rasanya seperti mendapat inspirasi dan tantangan baru. Kebetulan juga lagi merasa bosan dan butuh sesuatu yang baru. Akhirnya cari info dulu kesana kemari, untuk kelengkapan data. Setelah itu berdoa lagi, mohon ijin dari Allah untuk aku bisa sekolah lagi, karena aku percaya, kalau Allah mengijinkan, berarti semua jalan akan terbuka dengan sendirinya. Tanda pertama dan yang penting adalah aku diberi kemantabnan hati untuk melangkah. Selanjutnya baru aku menjajagi urusan yang lain, dari masalah finansial, ijin dari perusahaan, ijin Bapak, dll. Ternyata tidak mudah. Finansial sih oke, aku hanya harus mengatur cash flow pribadi, karena tidak lagi ada subsidi hehe. Ijin prinsip dari Bapak oke, tapi malah ribut masalah transportasi karena jauh, sementara aku harus wara wiri rumah - kantor - kampus. Butuh extra energi untuk memberi penjelasan hehe. Ijin dari kantor juga tidak mudah, karena jam kuliah yang padat, berarti aku banyak tidak masuk bekerja, belum lagi pendapat orang-orang yang mempertanyakan perlunya aku sekolah lagi untuk apa. Kembali ke laptop, selama Allah mengijinkan, pasti ada jalan, dan memang begitu kenyataannya. Semua harus ada pengorbanan pastinya, baik dari extra budget, extra waktu dan extra energy.
Mulailah bulan Syawal atau Agustus 2008 resmi menajdi mahasiswa S2 program Magister Psikologi Profesi di Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Kembali ke kampus lagi setelah sekian lama (lulus tahun 1995), rasanya campuran. Antara happy banget, aneh (karena lingkungan baru plus aku paling tua) dan semangat yang menggebu. Tapi karena tekat sudah bulat, hal-hal yang tidak perlu dipikir ya aku singkirkan saja, daripada menghalangi dan menghambat langkah. Tantangan dan hambatan berjalan seiring sejalan. Penyesuaian waktu antara bekerja dan kuliah, bagaimana menghadapi gunjingan orang-orang, extra waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas, terutama kalau pas banyak tugas / ujian sementara pekerjaan juga lagi padat, wah bisa melet-melet hehehe.
So far sampai februari 2010, semua berjalan lancar, on schedule. Mulai mengerjakan thesis, baru alokasi waktunya berantakan. Sebenarnya sih selesai total bulan November 2010, tapi masih ini itu, plus kena thypus, menunggu jadwal ujian dll, baru mei 2011 bisa ujian akhir, itupun gagal pula. Waduh ...
Faktor utama kegagalan adalah karena ujub, over self confidence, jadi sombong. Harus reset dulu, mundur selangkah untuk maju dan melompat. Umroh dulu, untuk mendapat pencerahan lahir batin. Akhirnya ujian lagi tg 18 Agustus 2011 / Ramadhan 1432 H dan lulus ... dengan nilai A bulat (istilah p. Yadi). Alhamdulillah ... !
Begitupun perjuangan belum selesai, karena mengejar jadwal wisuda tg 24 September, maka aku cuma punya waktu maksimal 1 bulan untuk menyelesaikan semua persyaratan, mana harus kepotong libur lebaran selama 1 minggu. Hayah ... benar-benar marathon untuk segala sesuatunya. Mengejar tanda tangan para dosen, bolak balik ke yogya, sampai pulang jam 23, demi tercapai finish yang benar-benar finish.
Suka (ketemu teman baru, makan bersama di kantin, buka bersama, saling dukung sesama teman, dll) dan duka (cemooh-an orang-orang, membagi waktu antara bekerja dan kuliah, pekerjaan dan ujian, complain ke dosen, ngomel ke TU, jadwal yang tidak jelas, dll) bergiliran mewarnai perjalanan proses pendidikan yang aku jalani.
Alhamdulillah, dengan ijin penuh dari Allah, restu Bapak, dukungan dari saudara, Boss2, dosen pembimbing, teman2 kampus, teman2 kantor, semua bisa terlewati dengan senyum mengembang. Dan puncak acara pada Sabtu kemarin, ketika kami mengucapkan sumpah profesi dan wisuda ke-magister-an, rasanya semua banting tulang terbayar sudah.
Terima kasih untuk untuk semua pihak yang sudah dengan penuh kasih sayang menemani dan membantu selama masa studi ini. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian dengan limpahan rahmat dan barokah yang seluas-luasnya. Amin.
Next question is : what is the next challenge?
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMembaca tulisan ini serasa diajak mendaki sebuah gunung. Dimulai dengan persiapan pendakian - perjalanan yang melelahkan tapi melewati pemandangan yang begitu indah sepanjang perjalanan - dan akhirnya sampailah kita di puncak gunung yang kita impikan itu. Disana penuh dengan keharubiruan dan kepuasan. Bangga. Haru. Syahdu.
BalasHapusTapi, hanya satu kalimat yang membuat saya 'wah', adalah kalimat terakhir tulisan ini : "Next question is : what is the next challenge?"