Definisi saudara secara umum adalah seseorang yang mempunyai hubungan darah dengan kita. Secara silsilah bisa panjang lebar, dari saudara satu gantung siwur, mbah canggah, mbah buyut, mbah, saudara kandung, sepupu, keponakan, cucu, cicit, canggah. Wah ... pohon silsilah bisa bercabang dan beranting ga karuan. Mungkin kalau dikumpulkan bisa satu kampung sendiri. Belum lagi dengan adanya pernikahan, jadi timbul istilah "sedulur kadang katut", karena saudara suami / istri juga akan menjadi saudara kita. Walah ...
Saudara adalah orang yang (seharusnya) dekat dengan kita, tempat kita berbagi, baik suka maupun duka, saling tolong menolong, dan semua yang indah-indah (hehe). Tapi kenapa ya, kadang saudara malah jadi musuh, sementara teman atau orang yang tidak ada hubungan darah, malah bisa lebih dekat seolah seperti saudara sendiri? Dunia memang kuwalik-walik. Atau justru disitu seninya, jadi kita tidak terkotak-kotak pada satu marga / fam, tapi bisa memperluas persaudaraan dengan diluar "garis". Ambil positifnya ajalah ...
Kalau di perantauan, hubungan dengan orang lain sebangsa dan setanah air justru akan semakin kuat, kita serasa menemukan saudara baru. Oleh karena itu, definisi saudara kemudian bisa berkembang luas, konteksnya bisa bermacam-macam. Saudara setanah air, saudara sekampung, saudara sekost2an, saudara ketika sekolah dll. Kalau istilah sekarang mungkin jadi "komunitas tersendiri".
Pengalaman pribadi ketika berkunjung ke tanah suci, semua adalah saudara dalah ukhuwah Islamiyah, karena kita semua tidak saling kenal, tapi dipersatukan dalam satu agama. Kami semua dengan perbedaan bangsa, bahasa, adab budaya, ukuran fisik, warna kulit dll, tidak menjadi penghalang tapi justru dipersatukan dalam satu keyakinan. Sungguh terasa indah ... Ketika duduk bersama untuk menunggu waktu sholat tiba, wanita dari Turki memberi tahu saya untuk mebaca Al Qur'an surat Al Kahfi pada hari Jum'at. Dia juga menyemprotkan parfum ke tangan saya. Baunya lumayan enak, wah ... sukron. Di hari lain ada yang memberi saya tasbih, juga memberi tempat (walau sudah penuh sesak) untuk bisa sholat di depan Ka'bah, juga memberi air zam-zam ketika thawaf ditengah teriknya matahari. Alhamdulillah.
Lebih terharu lagi ketika berkunjung ke Masjidil Aqsa di Jerusalem, saudara-saudara Palestina kelihatan gembira sekali dengan kehadiran kami, minimal itu sangat memberi dukungan moril kepada mereka. Selain itu mereka selalu menyambut kami dengan hangat, jabatan tangan serta peluk cium dan memanggil kami dengan "my brother dan my sister". Benar-benar ukhuwah Islamiyah yang indah ...
Itulah indahnya persaudaraan, itulah indahnya ikatan tali silaturahim. So ... to all my brother and my sister, (walau masih lama) met mudik ya, untuk tetap mejaga kehangatan hubungan keluarga. Setahun sekali, luangkan waktu untuk berkumpul, menyapa, mencairkan hubungan yang kaku dan memperbaiki semua yang kurang indah di masa lalu.
Mohon maaf lahir batin ...
Saudara adalah orang yang (seharusnya) dekat dengan kita, tempat kita berbagi, baik suka maupun duka, saling tolong menolong, dan semua yang indah-indah (hehe). Tapi kenapa ya, kadang saudara malah jadi musuh, sementara teman atau orang yang tidak ada hubungan darah, malah bisa lebih dekat seolah seperti saudara sendiri? Dunia memang kuwalik-walik. Atau justru disitu seninya, jadi kita tidak terkotak-kotak pada satu marga / fam, tapi bisa memperluas persaudaraan dengan diluar "garis". Ambil positifnya ajalah ...
Kalau di perantauan, hubungan dengan orang lain sebangsa dan setanah air justru akan semakin kuat, kita serasa menemukan saudara baru. Oleh karena itu, definisi saudara kemudian bisa berkembang luas, konteksnya bisa bermacam-macam. Saudara setanah air, saudara sekampung, saudara sekost2an, saudara ketika sekolah dll. Kalau istilah sekarang mungkin jadi "komunitas tersendiri".
Pengalaman pribadi ketika berkunjung ke tanah suci, semua adalah saudara dalah ukhuwah Islamiyah, karena kita semua tidak saling kenal, tapi dipersatukan dalam satu agama. Kami semua dengan perbedaan bangsa, bahasa, adab budaya, ukuran fisik, warna kulit dll, tidak menjadi penghalang tapi justru dipersatukan dalam satu keyakinan. Sungguh terasa indah ... Ketika duduk bersama untuk menunggu waktu sholat tiba, wanita dari Turki memberi tahu saya untuk mebaca Al Qur'an surat Al Kahfi pada hari Jum'at. Dia juga menyemprotkan parfum ke tangan saya. Baunya lumayan enak, wah ... sukron. Di hari lain ada yang memberi saya tasbih, juga memberi tempat (walau sudah penuh sesak) untuk bisa sholat di depan Ka'bah, juga memberi air zam-zam ketika thawaf ditengah teriknya matahari. Alhamdulillah.
Lebih terharu lagi ketika berkunjung ke Masjidil Aqsa di Jerusalem, saudara-saudara Palestina kelihatan gembira sekali dengan kehadiran kami, minimal itu sangat memberi dukungan moril kepada mereka. Selain itu mereka selalu menyambut kami dengan hangat, jabatan tangan serta peluk cium dan memanggil kami dengan "my brother dan my sister". Benar-benar ukhuwah Islamiyah yang indah ...
Itulah indahnya persaudaraan, itulah indahnya ikatan tali silaturahim. So ... to all my brother and my sister, (walau masih lama) met mudik ya, untuk tetap mejaga kehangatan hubungan keluarga. Setahun sekali, luangkan waktu untuk berkumpul, menyapa, mencairkan hubungan yang kaku dan memperbaiki semua yang kurang indah di masa lalu.
Mohon maaf lahir batin ...
Komentar
Posting Komentar