Ramadhan akan segera pergi meninggalkan kita. Ada yang merasa senang, karena lebaran segera datang menjelang. Tapi ada juga yang sedih, karena akan ditinggalkan oleh ramadhan. Mengapa kita senang? Mungkin karena merasa berat menjalani ibadah puasa, harus menahan lapar dan haus. Apalagi kalau melihat orang lain minum atau makan, rasanya mak cleguk ... hiks. Belum lagi harus tidur malam karena sholat tarawih (ga harus sih ...). Atau harus bangun pagi untuk sahur, di saat mata sangat berat, di saat dimana selimut hangat memanggil-manggil ... waduh ... Badan jadi lemas, gampang ngantuk, dan seabreg "penderitaan" lain yang bernama menahan hawa nafsu yang maha berat dan harus dilaksanakan.
Dan mengapa kita merasa sedih? Karena dalam 1 tahun (11 bulan), hanya ada 1 bulan yang bernama ramadhan. Bulan yang penuh pahala, dimana amal kebaikan kita dilipatgandakan secara luar biasa, ibadah sunah dihitung sebagai pahala wajib, ibadah wajib dihitung sampai 10x lipat, tiap hari, tiap amal. Bahkan puasa kitapun, Allah sendiri yang akan memberikan hadiahnya. Tidur dihitung ibadah, diam dihitung ibadah. Terlebih jika kita tadarus atau ber-dzikir. Bulan ini juga bulan penuh barokah, dimana dalam bulan ramadhan pula, adanya malam lailatul qodar, dengan hitungan pahala 1000 bulan (83 tahun), sementara usia kita belum tentu sampai pada angka itu. Hanya 1 malam = pahala 83 tahun ... wow ... LUAR BIASA !!!. Dan sebagai hadiah utama, ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Sejak kita akhil baliq, sejak itu pula kita produkstif menghasilkan dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar. Betapa mudah kita membicarakan kejelekan orang lain. Betapa mudah kita marah kepada orang lain. Betapa mudah kita meyakiti hati orang lain. Wah ... deretan dosa itu bisa mengeringkan air laut sebagai tinta jika harus dituliskan. Dan dengan kemurahan Allah semata, semua itu bisa dihapus di bulan ramadhan. Allahu Akbar.
Tentu saja yang indah-indah itu tidak akan datang dengan sendirinya, harus dilalui dengan "penderitaan" yang saya sebut diatas. Pertanyaan berikut adalah : sudahkah kita menang melawan hawa nafsu kita? Apa yang akan terjadi pada 11 bulan yang akan datang? Apakah kita akan menjadi manusia yang lebih baik atau lebih buruk? Apakah jejak puasa meninggalkan bekasnya di kehidupan kita selanjutnya? Ataukah kita hanya baik ketika ramadhan karena mengejar "keuntungan" semata atas iming-iming hadiah yang luar biasa, dan ketika hadiah itu menjadi biasa-biasa saja, amal kita juga menurun ? Apakah anak yatim hanya kenyang, berbaju bagus dan mendapat santunan hanya pada bulan ramadhan, sementara 11 bulan berikut mereka tetap kelaparan, tidak punya baju dan hidup seadanya?
Untuk menjadi renungan ...
Dan mengapa kita merasa sedih? Karena dalam 1 tahun (11 bulan), hanya ada 1 bulan yang bernama ramadhan. Bulan yang penuh pahala, dimana amal kebaikan kita dilipatgandakan secara luar biasa, ibadah sunah dihitung sebagai pahala wajib, ibadah wajib dihitung sampai 10x lipat, tiap hari, tiap amal. Bahkan puasa kitapun, Allah sendiri yang akan memberikan hadiahnya. Tidur dihitung ibadah, diam dihitung ibadah. Terlebih jika kita tadarus atau ber-dzikir. Bulan ini juga bulan penuh barokah, dimana dalam bulan ramadhan pula, adanya malam lailatul qodar, dengan hitungan pahala 1000 bulan (83 tahun), sementara usia kita belum tentu sampai pada angka itu. Hanya 1 malam = pahala 83 tahun ... wow ... LUAR BIASA !!!. Dan sebagai hadiah utama, ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Sejak kita akhil baliq, sejak itu pula kita produkstif menghasilkan dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar. Betapa mudah kita membicarakan kejelekan orang lain. Betapa mudah kita marah kepada orang lain. Betapa mudah kita meyakiti hati orang lain. Wah ... deretan dosa itu bisa mengeringkan air laut sebagai tinta jika harus dituliskan. Dan dengan kemurahan Allah semata, semua itu bisa dihapus di bulan ramadhan. Allahu Akbar.
Tentu saja yang indah-indah itu tidak akan datang dengan sendirinya, harus dilalui dengan "penderitaan" yang saya sebut diatas. Pertanyaan berikut adalah : sudahkah kita menang melawan hawa nafsu kita? Apa yang akan terjadi pada 11 bulan yang akan datang? Apakah kita akan menjadi manusia yang lebih baik atau lebih buruk? Apakah jejak puasa meninggalkan bekasnya di kehidupan kita selanjutnya? Ataukah kita hanya baik ketika ramadhan karena mengejar "keuntungan" semata atas iming-iming hadiah yang luar biasa, dan ketika hadiah itu menjadi biasa-biasa saja, amal kita juga menurun ? Apakah anak yatim hanya kenyang, berbaju bagus dan mendapat santunan hanya pada bulan ramadhan, sementara 11 bulan berikut mereka tetap kelaparan, tidak punya baju dan hidup seadanya?
Untuk menjadi renungan ...
Komentar
Posting Komentar