Pelajaran dari Bapak & Ibu

Tulisan ini aku buat untuk pengingat, bisa untuk anak cucu dan mungkin bisa jadi inspirasi orang lain. 
Alm Bapak - almh Ibu, sejak masih sugeng, selalu mengatakan : lebih memilih untuk mewariskan nilai-nilai dan pendidikan dari pada mewariskan harta. Dan itu sangat berharga untuk menjadi bekal bagi kami melanjutkan hidup selanjutnya. Btw nomer yang tertulis tidak berdasarkan ranking penting tidak nya, tapi berdasarkan "seingat nya aku" (hehe)

  1. Harus hidup rukun dengan saudara, apapun yang terjadi. 
  2. Dengan saudara harus saling membantu : kalau punya nya uang, bantu dengan uang - kalau bisa nya membantu pikiran, bantu dengan usul / saran - kalau bisa nya membantu dengan tenaga, bantu dengan tenaga. Intinya harus "do something".
  3. Membeli sesuai kebutuhan, bukan keinginan.
  4. Almh Ibu tidak pernah mencontohkan untuk beli barang yang merk.
  5. Contoh baju, tidak perlu beli yang mahal, kadang aku diajak ke Beteng (PGS pusat grosir solo), ada yang jual kain kiloan, kita ngubek dan milih yang bagus, dengan harga murah, kemudian dijahitkan. Hasilnya lumayan wow, karena banyak yang memuji (hehe). Jadi bisa ganti-ganti baju tanpa beban budget yang mahal.
  6. Sejak kecil, kami di budget sesuai umur, jadi mbak dan saya punya jatah berbeda. Misal mbak kalau beri barang dengan range budget : 50 - 100 dan saya : 10 - 50. Maka ketika memilih barang, saya tidak akan mungkin melihat yang harga nya diatas budget saya.
  7. Kalau makan harus habis, jadi ketika mengambil sesuatu, harus tanggung jawab untuk menghabiskan. Oleh karena itu, biasanya kami ambil sedikit dulu, kalau kurang baru nambah.
  8. Ortu mengajari kami untuk bisa hidup secara kaya dan miskin. Biasa makan di warteg atau emplek2, tapi juga bisa makan dengan pisau dan garpu ala sitting dinner. Bisa naik bis umum, tapi juga bisa naik pesawat.
  9. Kami sering diajak pergi, kemanapun, jauh dekat, dengan berbagai moda transportasi (sepeda, motor, mobil, pick up, colt, truck, bis, pesawat). Nyebrang pakai rakit, ke desa-desa, melihat berbagai jenis kehidupan masyarakat. 
  10. Pada dasarnya ortu senang bepergian, senang silaturahim (saudara, kenalan, teman). Jadi dengan mengunjungi mereka di berbagai tempat, sekalian pergi, sekalian silaturahim, sekalian menambah wawasan.
  11. Jaman dulu belum musim menabung di bank, jadi Ibu senang membeli perhiasan (emas atau berlian) sebagai investasi dan perhiasan. Ibu juga menyimpan uang dipisah-pisah, sebagai "pertahanan" untuk tidak boros dan sesuai keperluan.
  12.  Bapak mengajari kami untuk mencintai alam, jadi kami ikut Pramuka, belajar kemah, nyebur sungai, mencari jejak dll. 
  13. Secara Ibu adalah sosialita jaman old, teman nya banyak, dari berbagai kalangan. Kami diajari cara bergaul dengan kalangan atas maupun bawah. 
  14. Sopan santun, tata krama, cara bergaul, bagaimana ke orang yang lebih tua, sejajar dan lebih muda. Secara Eyang adalah orang yang sangat konservatif, jadi kami harus paham tetek bengek aturan ala Solo. Cara berbicara, cara bersikap, cara berjalan, cara makan, cara naik mobil, cara menyeberang, dll (semua diajari, dilatih)
  15. Secara ortu jaman old pemahaman agama belum dalam, tapi intinya beliau selalu mengajarkan bagaimana kita menjadi orang yang baik, sesuatu yang applicable, ga kebanyakan teori.
Sementara baru itu yang ingat. Kalau ada lagi, disambung lagi. 
Semoga bermanfaat.


Komentar