26 Desember 2018
Etape terakhir adalah Palestine. Rabu, 26 Desember 2018, after breakfast, berangkat menuju Allenby bridge, perbatasan Jordan Israel (terpaksa menyebut nama itu, hiks). Mampir dulu di some store untuk titip barang, koper kita. Jadi kita cuma bawa barang / tas secukupnya, untuk menghindari pemeriksaan yang tidak perlu.
Di imigrasi Jordan, kita menunggu di bis, sudah diurus oleh travel setempat. Menyeberang ke area mereka, dengan bis dan driver saja. Kita turun, bawa barang, barang masuk X rays, orang antri paspor (tahap 1) - ditanya nama lengkap (sesuai apa tidak dengan paspor). Mbok-e ta gandeng terus, aku bilang my assistance biar ga banyak pertanyaan. Paspor Dina dan Adit diminta. Biar aja, just psy war especially for young visitor. Pemeriksaan tahap 2, barang sudah dibawa, ditanya lagi tujuan kemana. Alhamdulillah aku kena petugas yang ga aneh-aneh, lancar jaya. Yang agak lama malah m. Heroe, ga jelas kenapa. Kita sudah dijemput oleh guide yang disana, nunggu di bis aja. Tapi so far juga ga lama (dibanding jaman mb. Diah dulu hampir sejam lebih). Ini total dari datang sampai keluar, max sejam lah).
Langsung menuju Jericho, kota paling tua di dunia, 10.000 tahun. Sekarang sudah rame, ada toko souvenir dan beberapa penjual. Terus makan siang, prasmanan, lumayan sih, nyoba berbagai macam, so far ada nasi sih, hahaha wong jawa banget.
Lanjut ke kota Jerusalem, ke masjid dan maqam Salman Al Faritsi. Maqam disini maksudnya adalah monumen, simbol, bukan kuburan. Kemudian mampir ke bukit Zaitun, foto aja, kompleks Al Quds dari kejauhan.
Akhirnya kita menuju Masjid Al Aqsa. Ke Baitul Maqdis dulu, Kubah Emas, karena ngejar sholat dhuhur. Kemudian dijelaskan area-area nya, tempat batu "yang mau ikut" Rasulullah terbang, potongan jenggot dll. Kemudian bergerak menuju Kubah Batu, sholat Ashar dan explore sekeliling, termasuk ke area bawah, masjid asli nya.
Menuju hotel, kita berjalan kaki karena nanti sholat maghrib dan isya kita harus jalan ke masjid, biar tahu arah. Melewati lorong kota tua, old Jerusalem, jalan batu, dinding abtu, suasana lama banget.
Kita nginap di hotel St. George, lumayan banyak umat muslim yang menginap karena relatif dekat ke masjid. Tapi dekat nya jangan bandingkan dengan hotel di Mekah, karena harus jalan bisa 20 menit an.
Sampai hotel, check in, langsung wudhu dan berangkat lagi ke masjid. Sudah pakai jaket tebal, karena cuaca lebih dingin dari Jordan, apalagi malam hari. Maghrib dan isya di masjid, Alhamdulillah bisa khatam Al Qur'an sejak Madinah, Mekah dan Palestine. Melihat suasana, memandang sekeliling. Sudah lebih rapi, lebih bersih dari jaman kita th 2011. Al Qur'an sudah baru dan bagus, karpet baru, sudah lebih banyak orang yang berkunjung, bahkan muslim dari Perancis. Alhamdulillah banget.
Cuma, aku mungkin kecapekan maksimal, kedinginan dan kurang tidur, walhasil batuk dan pilek parah. Malam, makan dulu, minum obat dan minum jahe. Tidur tewas. Pagi aku sudah pamit untuk tidak ikut sholat subuh ke masjid, eman sebetulnya, tapi piye maneh : masih jalan jauh, pasti adem banget. Lha bener, agak gerimis dan angin, jadi tambah dingin.
27 Desember 2018
After breakfast, kita check out, menuju masjid Ibrahim di Hebron. Disambut hujan, tambah dingin aja. Lha semua sudah pakai jaket tebal, apalagi aku lah, yang orang tropis.
Hebron, kota yang dimatikan, miris deh, akses jalan ditutup, ekonomi dimatikan. Semakin sedikit penduduk yang disana. Rebutan makanan, mereka butuh $ banget.
Masjid Ibrahim, karena kenyataan nya Nabi Ibrahim dimakamkan disana, makanya menjadi rebutan. Masjid dibagi 2 : area Yahudi (sinagog) dan area Muslim (masjid).
Lepas dari Hebron, hujan sepanjang jalan. Makan dulu, sudah disajikan something salad di meja, kemudain nasi (lemak?) dan ayam yang porsi nya aduhai. Enak jane, ayam nya juga empuk dan enak. Ya semampunya aja sih, piye maneh.
Menuju maqam Nabi Musa, beberapa renovasi. Kemudian ke Dead Sea dari arah Palestine (kita dulu sudah pernah dari sisi Jordan). Tidak turun ke laut nya karena mesti jalan lumayan jauh. Lagian dingin hehe.
Langsung cus ke perbatasan, kalau pulang mah lancar jaya, tidak banyak pertanyaan, just go. Sudah dijemput bis yang dari Jordan. Di imigrasi Jordan, sudah dijemput juga oleh pemandu kita. Langsung menuju store tempat kita titip barang, re-packing sambil nambah oleh-oleh yang belum. Jam 17, sudah gelap, kita menuju bandara. Sampai bandara jam 18, sudah disambut juga oleh petugas imigrasi, check in dan bagasi. Route kita Amman Riyadh, terbang jam 23 an.
28 Desember 2018
Sampai Riyadh jam 01, nunggu lumayan lama sambil tidur, karena Riyadh Jakarta delay 3 jam. Jam 4 baru terbang lagi, sampai Jakarta jam 17.30. Di pesawat cuma tidur dan makan, capek.
Pesawat lanjutan ke Yogya, jam 20. Urus bagasi, sholat dulu. Duduk lagi, menunggu.
Sampai Yogya jam 23, urus bagasi, lanjut darat ke Solo. Sampai Pantisari jam 00.30. Alhamdulillah semua berjalan baik dan lancar, hanya delay 2 kali pas berangkat dan pulang.
Terima kasih untuk semua teman perjalanan. Terima kasih untuk Cahaya Imani, handling nya sip, baik untuk orang maupun barang, sejak berangkat dari rumah sampai pulang lagi ke rumah. Semoga ketemu di trip berikut nya.



Komentar
Posting Komentar