Bapak

Mungkin karena 2 anaknya perempuan semua, Bapak mendidik kami sedikit ala laki-laki. Pramuka, touring ke pelosok naik motor, melihat pedesaan, naik rakit nyebrang sungai, naik mobil pick up, dimana bagian belakang disulap jadi kemah (bawa kasur dll), mendaki gunung (lebih ke mbak-ku, aku sendiri masih gunung yang enak - misal Bromo). Hobi beliau memang jalan-jalan - kemana saja, melihat hal baru - apa saja. Sehingga itu sudah menjadi darah daging kami sejak kecil. Efeknya memang luar biasa : mencintai alam, membuka wawasan, toleransi terhadap berbagai hal, pikiran yang terbuka. 

Kami makan mewah di resto atau hotel - bisa, makan dengan pisau dan garpu - bisa. Tapi kami juga tidak masalah untuk makan di pinggir sawah / kali sambil piknik makan bawaan dari rumah. Atau juga makan di warteg. No problemo.

Bapak - beliau tegas dan keras, cenderung kaku. Mungkin karena melindungi kami (secara berlebihan hehe). Beliau yang tiada lelah mengantar jemput ke sekolah, dari SD sampai SMP. Baru SMA aku naik sepeda onthel sendiri. Dengan vespa nya, tidak peduli hujan atau panas, ketika saatnya menjemput sekolah, selalu siap sedia. Kadang harus menunggu sejam ketika salah jadwal atau ada kegiatan sekolah yang lain.

Ketika mbak-ku kuliah di Sby, dimana ATM sudah ada tapi belum "mendunia". Bagi orang tua yang tidak biasa dengan kemajuan perbankan, beliau lebih suka naik bis umum ke Sby untuk mengantar uang bulanan, sekaligus menjenguk anak-nya. Hanya sekedar "bisa ketemu dan melihat" bahwa anak-nya baik-baik saja, sudah melegakan hatinya. Setelah itu langsung balik Solo, dengan bis umum lagi.

Bapak mencintai kami dengan caranya sendiri, yang mungkin sulit untuk dipahami. Beliau manusia biasa - lengkap dengan kelebihan dan kekurangan nya. Dan beliau selalu menjadi yang terbaik untuk-ku. 

Di masa aku sudah dewasa, memasuki dunia kerja, beliau masih setia antar jemput. Itu bentuk perhatian dan perlindungan. Bagi aku, itu bentuk untuk membuat beliau merasa "masih berguna" walau sudah sepuh. Walaupun orang-orang bilang, aku seperti anak TK, aku tidak peduli, jika itu demi kebahagiaan bapak-ku (karena mereka tidak pernah tahu, cuma bisa ngomong doang). 

Sampai saat beliau benar-benar sudah sepuh. It's my turn. 1 hal ucapan orang tua yang paling "berat" kurasa secara beban tanggung jawab adalah : kalau mereka tua, mereka ingin hidup dalam "pengasuhan"ku. Itu "luar biasa" kurasa. Dan terjadi lah seperti kehendak mereka. Ibu sampai seda, dalam perawatan ku. Bapak - saat ini 85 th - juga bersama ku. 
 
Aku sendiri merasa belum bisa menjadi anak yang baik. Belum bisa maksimal untuk membalas apa yang sudah diberikan orang tua-ku. Bahkan kadang aku masih ber-suara keras terhadap mereka. Aku tahu itu salah, tidak baik dll. Tapi ada saat dimana terasa berat : ketika emosi labil wanita, fisik yang capek, banyak pikiran, dan orang tua yang punya pendapat yang bertentangan. So hard.

Sering aku pandang wajah bapak - sudah semakin sepuh, sudah lemah secara manusia, kerut wajahnya. Alhamdulillah beliau sehat. Rambut masih lebat, masih bisa berjalan tegak walau sangat pelan, gigi masih utuh, masih bisa mandiri secara umum (makan, mandi, memakai baju, minum, dll). Melas rasanya. 

Bapak - untuk semua jerih payah mu - semoga Allah mengampuni semua kesalahan, melindungi dari hal-hal yang tidak baik, menetapkan hati dalam iman dan islam. Semoga aku bisa merawat dengan baik, ikhlas dan sabar. Insyaa Allah.

16 November 2017, saat bapak sedang tidak enak badan, kedinginan, batuk. I love you.


Komentar