Explore Yogyakarta, 08 Oktober 2016

Bersama ibu2 arisan, kali ini piknik ke Yogyakarta, kota tetangga yang sekarang bermunculan obyek2 wisata baru yang oke punya. Berangkat jam 06.30, selama perjalanan full makanan, bergantian yang membagikan kue / penganan lain.
 
Tujuan pertama, ke Tebing Breksi, dari arah Prambanan, belok kiri arah menuju Ratu Boko. Tidak jauh nanti ada petunjuk arah belok ke kiri. Bukan pahatan alam sih, tapi hasil penambangan. Belum ada retribusi karena masih baru. Di bawah ada arena bundar yang bisa dipakai untuk berbagai pertunjukan, dengan bangku2 yang bertingkat, dengan latar belakang dinding tebing yang eksotik. 


Menuju atas bukit, sudah ada tangga (tidak terlalu tinggi kok). Di atas, kita bisa melihat pemandangan kota, tapi sayang saat itu cuaca mendung dan berkabut. Ada banyak spot untuk foto, bahkan ada yang foto untuk pre wed. Mereka menyebut sebagai taman ekskalasi, ada juga yang menyebut sebagai GWK-nya Yogyakarta. 



Ada lagi spot yang "sedikit ekstrim" karena tangga nya cukup sempit dan tanpa pengaman sama sekali. Foto dari atas situ, saya diteriaki oleh petugas, karena memang berbahaya. (adegan yang jangan ditiru).


Lepas dari Tebing Breksi, kita naik lagi sekitar 1 km, menuju Candi Ijo, terletak di Gunung Ijo, sekitar 375 mdpl, lumayan sejuk. Ada 3 candi kecil dan 1 candi utama yang besar. Lingkungan cukup bersih dan asri, hijau. Masih agak sepi sih. 







Dari Candi Ijo, kami menuju Kaliurang, untuk ber-Lava Tour, naik jeep. Paket seharga Rp. 350.000,- untuk ber-4 orang. Siapkan masker dan topi, juga jaket, karena kita akan off road di jalan yang berdebu.


Melewati kuburan massal, melihat rumah2 yang hancur karena diterjang awan panas Gunung Merapi, kemudian mengunjungi museum mini : bekas rumah yang dijadikan museum, dengan isi berbagai barang yang meleleh terkena awan panas. Miris juga melihatnya, membayangkan suasana saat itu.







Lalu menuju lokasi batu besar yang "pindah" alias terlempar dari gunung ke lokasi lain yang cukup jauh di Kaliadem, dekat dengan lokasi yang sekarang dipakai untuk penambangan pasir. Pindah dalam bahasa Jawa adalah "alihan", biar keren kemudian disebut "batu alien". 


Kemudian kita menuju petilasan rumah mbah Marijan, yang setia sampai akhir kepada Merapi. Suasana desa sudah cukup ramai, syukurlah.


Selesai tour, hujan turun dengan deras, Alhamdulillah, sudah pas makan siang, sambil beli jadah wajik mbah Carik. Ibu2, tidak lengkap tanpa shopping hehe, menuju kerajinan tas kulit di Palgading, jalan raya Kaliurang - Yogya. Bagus sih, tapi aku lebih suka yang etnik, dari daun agel, Rp. 125.000,- (kalau yang kulit, minimal 250 ribu hehe).  

Piknik ga perlu jauh dan mahal, meng-explore kota tetangga juga lumayan oke, murah meriah, dapat wawasan baru dan me-refresh fisik dan mental.

Yang pasti, tetap : CINTAI NEGERI SENDIRI, INDONESIA ITU INDAH !!!


 

Komentar