Bulan Desember ini, ada tanggal cantik, dimana tanggal merah berderet-deret, lumayan bisa libur 4 hari, looong weekend. Akhirnya diputuskan untuk pergi ke Labuan Bajo - explore Pulau Komodo. Mulai 2 bulan sudah search travel biro dan penerbangan, sebulan sudah fix ticket dan paket travel biro. Karena bersamaan dengan liburan anak sekolah dan Natal, maka peak season dan harga tiket melambung tinggi.
Berangkat tg 24/12 kebetulan libur Maulid Nabi Muhammad SAW, jam 04.15 dari rumah, menuju Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Walau sudah web check in, masih harus antri bagasi. Flight jam 07.25, menuju Denpasar, Bali. Mendarat jam 09.40 WITA. Terbang lagi jam 12.50 WITA menuju Bandara Komodo, Labuan Bajo, mendarat jam 14.30 WITA. Sudah dijemput, menuju hotel untuk istirahat sejenak.
Sore jam 17 kita city tour, kontur kota yang berbukit-bukit, memanjang karena sisi kiri kanan sudah bertepian dengan laut. Makan malam di pusat kuliner, full sea food, yummy. Bertepatan dengan malam Natal, sehingga pusat keramaian ada di sekitar gereja, beberapa ruas jalan ditutup, sehingga harus berjalan menuju hotel, karena posisi hotel bersebelahan dengan gereja.
Tg 25/12 jam 08.00 WITA kami sudah check out menuju pelabuhan, bersiap-siap untuk live on board, mengarungi samudra dengan kapal phinisi KM. Maranu selama 3 hari. Sudah siap dengan obat anti mabuk, karena musim gelombang tinggi. Jam 09.30 WITA kita berangkat.
Tujuan pertama Pulau Rinca, 3 jam perjalanan. Pulau Rinca, disebut juga Loh (teluk) Buaya, merupakan rumah kedua bagi komodo selain Pulau Komodo. Ada sekitar 2000 ekor komodo di pulau ini. Karena luas area yang lebih kecil, maka lebih "mudah" untuk ketemu dengan komodo. Ditemani 2 orang ranger yang dilengkapi dengan tongkat khusus, kami berjalan menyusuri area. Ada 3 pilihan jalur : short - medium - long. Kami memilih short saja, karena cuaca dan faktor U.
Sambil berjalan, ranger menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan : tidak boleh berisik, tidak boleh menggerakkan benda karena akan menarik minat komodo, harus menjaga jarak aman, untuk wanita yang sedang datang bulan harus lapor, karena komodo binatang carnivora, dia sensitif terhadap bau darah. Yang berbahaya adalah air liur komodo, karena mengandung bakteri yang bisa menimbulkan infeksi. Jadi kalau dia mencari mangsa, tidak perlu membunuh, hanya perlu menggigit, karena korban akan mati dengan sendirinya karena infeksi.
Setelah itu kami naik ke atas bukit untuk melihat panorama dari atas, memang menakjubkan.
Perjalanan lanjut ke Pulau Padar, rencana semula demi mengejar sunset, apa daya hujan deras mengguyur, sehingga kami sandar dan bermalam disini. Merasakan sensasi tidur di kapal. Ada 2 kamar, masing-masing dengan bed tingkat, 1 bed untuk 2 orang. Jadi 1 kamar isi 4 orang. Tidur sambil diayun gelombang hehe. Makan pun sambil menjaga keseimbangan, karena kadang ketemu gelombang besar. Lumayan seru.
Tg 26/12 pagi selepas subuh, kami "soft trekking" di bukit Pulau Padar. Turun kapal sudah tercelup air sepaha, mendaki bukit yang lumayan terjal, mana pakai sandal jepit, jadi licin. Akhirnya no sandal saja, malah lebih sip, anti slip. Sampai di atas, semua itu terbayar lunas, karena pemandangannya sungguh amazing, Anda bakalan menahan nafas karena indahnya, begitu agung ciptaan Allah Yang Maha Kuasa.
Harus antri, bergantian foto, untuk mendapat spot yang bagus. Bertemu dengan banyak teman baru, dari berbagai suku, anak-anak muda dengan hobi petualang, senang deh.
Balik kapal, segera berangkat. Pas mandi, pas kapal berangkat, pas gelombang besar. Jadi di kamar mandi sambil main ski, terpeleset-terpeleset kesana kemari, akibatnya pusing dengan suksesnya.
Tujuan selanjutnya ke Pulau Komodo, jarak antar pulau lumayan jauh, sekitar 2-3 jam, jadi lumayan bisa tidur dulu.
Pulau Komodo, atau Loh Liang, dengan populasi sebanyak 2900 ekor, tapi lebih sulit ketemu komodo disini, karena area yang terlalu luas. Ada 3 pilihan trip juga : short - medium - long. Ada "pasar" souvenir juga. Souvenir disini masih sangat terbatas, dengan kualitas yang masih sederhana, perlu dikembangkan lebih lanjut.
Info dari Ranger, besok RI-1 juga mau datang kesini. Lha kok ikut-ikutan to pak, hehe.
Lepas dari Pulau Komodo, menuju Pink beach. Hanya ada 7 pink beach di dunia :
1. Elafonisi beach, Crete, Yunani.
2. Spiaggia Rosa of Budelli, Sardinia, Itali,
3. Horseshoe Bay beach, Bermuda
4. Pink beach of Great Santa Cruz Island, Filipina
5. Pink beach of Harbour Island, Bahamas
6. Bonaire, Dutch Caribbean Island
7. Pink beach, Flores, NTT, Indonesia
bangga kan? Tapi mungkin tidak tepat bulan, karena warna pink-nya agak pudar. Sebetulnya pasir asli berwarna putih, tapi tercampur dengan butiran coral, sehingga mengakibatkan warna pink. Memang cantik. Lebih cantik dipandang dari atas bukit. Trekking jam 13 siang begini rasanya hahaha.
Anda bisa juga berenang di pantai atau snorkeling.
Dari Pink beach, kita menuju Manta point, dimana kita bisa snorkeling untuk bertemu dengan ikan pari manta. Dari atas kapal sudah terlihat, ikan pari berseliweran, hanya saja mereka berenang dengan cepat, plus arus di sekitar cukup kuat, sehingga harus berhati-hati jika berenang.
Selanjutnya menuju Gili Lawa, pantai, bukit dan panorama. Kita sandar disini dan bermalam. Trekking ke-3 di ahri ini, kaki sudah mulai gempor, jadi akhirnya kita memilih bukit yang pendek saja, bukan yang paling tinggi, karena melihat medannya yang sangat terjal sudah membuat patah hati.
Dari atas bukit, menjelang sunset yang tertutup awan, ditemani angin yang berhembus, air biru, sungguh betap kecil kita di hadapan-Nya, betapa indahnya Indonesia.
Gelombang cukup tenang, jadi malam ini suasana sungguh syahdu, bisa istirahat dengan enak.
Tg 27/12 hari terakhir, menuju Pulau Kanawa, 3 jam perjalanan. Ada resort (sederhana) di pulau ini. Kita menyusuri pantai saja, sambil snorkeling ditemani ikan-ikan kecil.
Dari Kanawa, kita kembali ke pelabuhan Labuan Bajo, pas makan siang, pas gelombang besar, wah ... antara menjaga keseimbangan badan, tempat makanan yang tumbang kesana kemari, beberapa menyerah kalah, pilih ke kamar, tidur. Aku bertahan di depan, tetap menikmati gelombang. Karena ini saat terkahir, aku pengin merekamnya dengan kuat kedalam memori. Menyatu dengan alam, angin semilir, gelombang, air biru, langit biru, kapal, matahari, ikan-ikan. Dalam proses recovery diri, menghapus memori lain yang tidak seharusnya tersimpan.
Mendarat di Pelabuhan Labuan Bajo jam 12, menuju Gua Batu Cermin. Gua yang di jaman dulu sebetulnya berada di bawah laut, terbukti dengan dinding gua yang penuh dengan kerang / binatang laut yang sudah membatu.
Objek wisata yang lengkap. Kenangan yang indah. Kembali ke "habitat" dengan hati yang bahagia, walau capek dan masih "sea lag" hehe.
See you Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur. Wonderful Indonesia. Semoga berkembang lebih bagus dimasa depan.
Komentar
Posting Komentar