Imlek jatuh pada hari kamis tanggal 19 Februari 2015, tahun China 2566, tahun kambing. Di Solo, sejak sebulan sebelum, suasana di sekitar Pasar Gede sudah meriah dengan lampion yang cantik. Patung shio di sepanjang jalan depan Balai Kota - Kantor Pos. Tempat yang tepat untuk memuaskan hobi selfie hehe. Ketika lampu lampion sudah menyala, jalanan bisa macet karena orang berhenti untuk foto. Malam minggu bisa super padat dan macet total di sekitar lampion. Ada juga yang foto pre wed. Hmmm ...
Ceritanya pas libur imlek, saya jalan-jalan ke Kuil Sam Poo Kong di Semarang. Banyak perjuangan yang harus dilakukan : perjalanan menuju kesana macet total, mencari area parkir, jalan menuju kuil, antri riket yang hanya Rp. 3.000,- tapi hanya buka 1 loket, akibatnya orang berdesak-desakan, plus cuaca super panas. Tapi di dalam tidak sampai penuh sesak, masih bisa berjalan dengan enak. Cuma kalau mau foto jadi agak tidak sip, karena banyak orang sebagai latar belakang, hehe.
Disambut dengan pertunjukan barongsai dengan musik yang hingar bingar.
Berjalan sekeliling kuil dengan bangunan khas arsitek China, ukiran-ukiran, patung, warna dominan merah, bau asap dupa hio, patung besar Laksamana Zheng He, goa peribadatan, dll.
Disini, semua berkumpul jadi satu : yang merayakan dari etnis Tionghoa, ada etnis Jawa, ada yang berkerudung. Ketika jam 12 ada adzan dhuhur, musik hingar bingar dan pertunjukan barongsai berhenti. Saling menghormati, saling menghargai.
Indahnya kebersamaan.
Di Solo sendiri beberapa waktu yang lalu ada parade terkait imlek, semua orang tumplek blek jadi satu, bersama dalam kerukunan. Budaya Jawa, budaya Tionghoa, bercampur tanpa ada gesekan.
Indahnya perbedaan dalam kebersamaan.
Gong Xi Fat Cai






Komentar
Posting Komentar