Zuhud

Saat ini kebanyakan orang bergaya hidup hedonis, mengejar kesenangan dunia, yang memang lengkap dengan segala sesuatu kemewahan yang ditawarkan. Memuja hawa nafsu demi kebahagiaan dunia. Gaya hidup hedonis yang konsumtif ini sebenarnya akan memicu perilaku korupsi dan bentuk kriminal lainnya (copet, pencuraian, perampokan, dll). 

Semua pihak sebenarnya ikut andil dalam hal ini, jika mau menyadari. Sinetron yang menampilkan rumah mewah, gaya hidup shopping di mall mewah, parade mobil mewah, baju-baju yang indah. Siapa yang tidak kepengin? Infotainment juga bersemangat dengan berita artis ini foto pre wed di luar negeri, belanja di singapore, deretan sepatu dan baju yang berlemari-lemari, pesta pernikahan bermilyard-milyard, hadiah ulang tahun berupa mobil mewah, pesta ultah anak umur 1 tahun di hotelm ewah, biyuh .... Juga iklan yang menawarkan berbagai macam gaya hidup konsumtif. 

Di dunia nyata kanan kiri kita, arisan ibu-ibu akan berbentuk parade toko, dengan baju, tas dan sepatu berbagai macam merk, semakin bermerk luar negeri, semakin bergengsi. Belum lagi bercerita liburan ini ke luar negeri, atau pamer cerita habis makan di resto ini itu. Di facebook dan social network juga pamer photo ketika disana sini (menyindir diri sendiri hahaha ...).

Berita terbaru saya dengar dari bapak, bahwa ada SMP Negeri di Solo yang anak didiknya piknik ke Singapore. Masya Allah, lha ini bentuk pendidikan yang tidak perlu digugu dan ditiru. Bagaimana mungkin dari dunia pendidikan-pun menyumbangkan "pelajaran" gaya hidup seperti ini? Benar-benar tidak bisa dimengerti.

Sungguh, dunia ini memang penuh keindahan yang tidak ada habisnya. Semakin dikejar akan semakin capek dan semakin ga karuan. Dan semua itu bersifat fana alias sesaat. Yang lebih lucu lagi ketika yang melakukan korupsi adalah orang-orang yang sudah berkecukupan bahkan berlebih. 
Mungkin tayangan media harus lebih banyak menampilkan kehidupan di Afrika yang kekeringan, dimana anak tinggal kulit dan tulang, tidak ada setetes air, tidak ada makanan, sementara  burung bangkai dengan setia menanti saat-nya tiba. Bahkan kencing binatang pun akan rela diminum demi tidak kehausan, Masya Allah ...

Nabi bersabda, yang namanya tetangga adalah kanan kiri sampai 40 rumah. Jadi sebelum kita melakukan sesuatu yang berlebih, ada baiknya menengok kanan kiri, apakah tetangga kita sudah berkecukupan atau belum, sehingga apakah pantas kalau kita begini begitu yang mungkin akan menyakiti hati mereka. (tapi untuk yang korupsi, karena hidup di daerah elit, sudah pasti tetanggannya super berkecukupan ya hehe). Kalau ada tetangga yang kelaparan sementara kita kekenyangan, rasanya kita juga ikut menanggung dosa. 

Islam mengajarkan kita untuk zuhud, sederhana, menghindari hal-hal yang bersifat keduniaan. Karena dunia adalah kesenangan sesaat yang menyesatkan. Bukan sama sekali menyingkir dari "dunia" tapi prosentase-nya yang perlu dikaji ulang. Allah sendiri menjanjikan, jika kita mengejar akhirat, maka dunia akan mengikuti, sementara kalau kita mengejar dunia maka kita hanya akan mendapat dunia itu saja, padahal kan kita juga harus mempersiapkan "tabungan" akhirat kelak? Karena pada dasarnya kita hanya butuh makan - minum (secukupnya -> kapasitas perut toh terbatas), baju (sepantasnya -> badan hanya 1, seberapa banyak baju yang ada, tidak bisa dipakai bersamaan) dan tempat tinggal (selayaknya -> nyaman untuk berteduh dari panas dan hujan).

Sejujurnya ini sulit sekali, apalagi untuk perempuan, namanya shopping bisa seperti candu haha ... siapa yang tidak senang melihat sepatu, baju, tas dan aksesoris lainnya yang begitu indah? bisa ngiler bener hahaha.
Tapi memang harta itu begitu menggiurkan, demi harta sesama saudara bisa menjadi musuh, demi harta orang bisa membunuh nyawa orang lain, demi harta orang rela menyakiti sesama, demi harta orang bisa jadi kalap,  Selalu kembali kepada pertanyaan umum : How much is enough?

Sungguh, tulisan ini secara utama adalah untuk mengingatkan diri saya sendiri dan semoga bermanfaat untuk yang lain. Semoga Allah selalu memberi saya petunjuk, amin.

Komentar