Tiga kali saya mengunjungi tanah suci, ternyata sensasi-nya berbeda-beda.
Yang pertama tahun 1996, umroh dengan Bapak, Ibu dan kakak, untuk pertama kalinya, setelah lulus S1. Rasanya kagum, takjub, melihat ka'bah untuk pertama kalinya. Wow ... ini to kiblat umat muslim sedunia? Begitu besar aura dan wibawanya. Menjalani umroh dengan senang hati. Mendaki jabal Nur dan masuk ke Gua Hira' tempat pertama kali ayat diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Mungkin ini "pesan" pertama Allah kepadaku, Iqra', Bacalah, untuk mendalami Islam secara lebih baik. Karena pada saat itu, level Islam saya yo ... biasa-biasa sajalah ...
Yang kedua tahun 2005, ibadah haji, sendirian. Niat berangkat pun terjadi secara tiba-tiba, ketika naik motor berangkat ke kantor, jegluk ... melewati rel di depan Sami Luwes Slamet Riyadi, kenapa tidak berangkat haji saja? Begitulah, akhirnya berangkat tgl. 01 Januari 2005, tahun baru di Tanah Suci. Saat itu posisi : Ibu sedang sakit kanker dan aku sendiri belum menikah. Ketika melihat ka'bah lagi, rasanya terharu luar biasa, air mata mengalir dengan deras tanpa bisa dihentikan. Ya Allah, bisa juga aku datang lagi, apalagi untuk ibadah haji, rasanya ... gimana gitu ...
Dalam ibadah haji ini, Allah memberi pesan berupa Surat Ar Rahman. Ketika menunggu waktu sholat, biasanya saya membaca Al Qur'an, tapi tanpa aturan yang jelas (tidak urut surat atau juz, dsb, karena Islam saya juga belum bagus-bagus amat). Eh ... tiga kali membuka, dalam waktu yang berbeda, sekali lagi tanpa aturan yang jelas alias asal buka, tiga kali pula selalu jatuh pada halaman Surat Ar Rahman. Akhirnya saya berpikir, bahwa saya ditegur oleh Allah karena tidak pandai bersyukur. Masalah utama saya "hanya" belum menikah, sementara nikmat karunia yang Allah berikan kepada saya begitu melimpah ruah tak terhitung. Jadi kalau satu hal itu kemudian "menghapus" yang banyak itu, rasanya memang saya kebangeten banget.
Akhirnya saya bisa menerima semua itu dengan baik, jadi tidak peduli lagi dengan perasaan aneh-aneh yang tidak jelas. Saya juga berpendapat, mungkin Allah masih memberiku "tugas" yang harus aku kerjakan dalam masa sendiri ini. Finally hidup ini menjadi lebih enteng ketika kita berserah sepenuhnya kepada Beliau. Juga perasaan syukur yang tiada habis-habisnya atas nikmat Iman dan Islam yang luar biasa. Dalam haji ini saya bisa "mengkalkulasi" bahwa biaya yang kita keluarkan (berapapun itu) ga sebanding apa-apa dengan semua rasa yang "LUAR BIASA" ini, plus semua janji Allah, bahwa semua itu akan diganti dan lain-lain, dan sebagainya.
Yang ketiga tahun 2011. Sejak tahun 2010 saya berdoa, minta ijin tahun depan bisa umroh dengan semua keluarga plus ke Masjidil Aqsa. Alhamdulillah doa itu terkabul, kami berangakat tg. 16 Juni 2011. Ketika melihat ka'bah lagi, saya tidak bisa mengeluarkan air mata, tapi bibir ini menyunggingkan senyum lebar, rasanya seperti berjumpa teman yang sudah loamaaa sekali tidak bertemu dan rasanya senang sekali. Jadi penginnya tersenyum dan tertawa bahagia.
Heran dan geli juga dengan sensasi yang ternyata berbeda-beda ini.
Kali ini saya pada dasarnya tidak membawa masalah khusus, walaupun sampai detik ini saya juga belum menikah, tapi saya menganggap itu bukan masalah. Allah punya waktu tersendiri untuk saya. Menjalani ibadah dengan ringan dan senang hati, berdoa hal-hal yang umum untuk kesehatan, mohon diberi ilmu, rejeki yang halal dan barokah, mohon diberi yang terbaik dan akhir yang khusnul khotimah. Untuk hal-hal yang khusus, sekali lagi rasanya malu kepada Allah kalau masih minta yang "kecil-kecil" karena Allah sudah beri saya yang "besar-besar", nikmat Allah sudah luar biasa banyak. Secara umum, mohon diberi yang terbaik, karena Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk saya.
Perjalanan kali ini, "pesan" yang Allah sampaikan adalah Surat Al Kahfi, karena ketika datang pertama untuk sholat Jum'at, sebelah saya orang turki bilang kepada saya untuk baca surat Al Kahfi. Dan terakhir ketika akan pulang, surat terakhir yang saya baca juga surat Al Kahfi, setelah urut dari pertama Surat Al Baqarah dan seterusnya. Sejujurnya saya belum bisa sepenuhnya "menangkap" pesan yang kali ini. Mungkin tentang ilmu dan keteguhan iman, berdasarkan Ahl Kahfi dan cerita Nabi Musa dan Nabi Khidir.
Setelah dari Mekah - Medinah, akhirnya kesampaian juga untuk menggenapkan "The Big 3 Mosque". Walah, rasa syukur ini tidak ada habis-habisnya.
Dan ketika pulang kembali ke rumah, rasanya sudah pengin berangkat lagi. Tanah suci seperti "candu" yang selalu menarik hati untuk kembali datang kesana.
Ya Allah, semoga saya bisa selalu kembali ke tanah suci, baik untuk umroh maupun haji, juga untuk semua teman dan saudaraku yang belum maupun yang sudah, semoga mereka Engkau ijinkan untuk datang ke Tanah Suci. Amin.
Untuk yang pernah kesana, pasti bisa merasakan, bahwa dunia ini memang benar hanya kesenangan sesaat yang menyesatkan. Keindahan dunia tidak akan mengoda jika dibandingkan kenikmatan ketika berada di Tanah Suci. Allahu Akbar.
Yang pertama tahun 1996, umroh dengan Bapak, Ibu dan kakak, untuk pertama kalinya, setelah lulus S1. Rasanya kagum, takjub, melihat ka'bah untuk pertama kalinya. Wow ... ini to kiblat umat muslim sedunia? Begitu besar aura dan wibawanya. Menjalani umroh dengan senang hati. Mendaki jabal Nur dan masuk ke Gua Hira' tempat pertama kali ayat diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Mungkin ini "pesan" pertama Allah kepadaku, Iqra', Bacalah, untuk mendalami Islam secara lebih baik. Karena pada saat itu, level Islam saya yo ... biasa-biasa sajalah ...
Yang kedua tahun 2005, ibadah haji, sendirian. Niat berangkat pun terjadi secara tiba-tiba, ketika naik motor berangkat ke kantor, jegluk ... melewati rel di depan Sami Luwes Slamet Riyadi, kenapa tidak berangkat haji saja? Begitulah, akhirnya berangkat tgl. 01 Januari 2005, tahun baru di Tanah Suci. Saat itu posisi : Ibu sedang sakit kanker dan aku sendiri belum menikah. Ketika melihat ka'bah lagi, rasanya terharu luar biasa, air mata mengalir dengan deras tanpa bisa dihentikan. Ya Allah, bisa juga aku datang lagi, apalagi untuk ibadah haji, rasanya ... gimana gitu ...
Dalam ibadah haji ini, Allah memberi pesan berupa Surat Ar Rahman. Ketika menunggu waktu sholat, biasanya saya membaca Al Qur'an, tapi tanpa aturan yang jelas (tidak urut surat atau juz, dsb, karena Islam saya juga belum bagus-bagus amat). Eh ... tiga kali membuka, dalam waktu yang berbeda, sekali lagi tanpa aturan yang jelas alias asal buka, tiga kali pula selalu jatuh pada halaman Surat Ar Rahman. Akhirnya saya berpikir, bahwa saya ditegur oleh Allah karena tidak pandai bersyukur. Masalah utama saya "hanya" belum menikah, sementara nikmat karunia yang Allah berikan kepada saya begitu melimpah ruah tak terhitung. Jadi kalau satu hal itu kemudian "menghapus" yang banyak itu, rasanya memang saya kebangeten banget.
Akhirnya saya bisa menerima semua itu dengan baik, jadi tidak peduli lagi dengan perasaan aneh-aneh yang tidak jelas. Saya juga berpendapat, mungkin Allah masih memberiku "tugas" yang harus aku kerjakan dalam masa sendiri ini. Finally hidup ini menjadi lebih enteng ketika kita berserah sepenuhnya kepada Beliau. Juga perasaan syukur yang tiada habis-habisnya atas nikmat Iman dan Islam yang luar biasa. Dalam haji ini saya bisa "mengkalkulasi" bahwa biaya yang kita keluarkan (berapapun itu) ga sebanding apa-apa dengan semua rasa yang "LUAR BIASA" ini, plus semua janji Allah, bahwa semua itu akan diganti dan lain-lain, dan sebagainya.
Yang ketiga tahun 2011. Sejak tahun 2010 saya berdoa, minta ijin tahun depan bisa umroh dengan semua keluarga plus ke Masjidil Aqsa. Alhamdulillah doa itu terkabul, kami berangakat tg. 16 Juni 2011. Ketika melihat ka'bah lagi, saya tidak bisa mengeluarkan air mata, tapi bibir ini menyunggingkan senyum lebar, rasanya seperti berjumpa teman yang sudah loamaaa sekali tidak bertemu dan rasanya senang sekali. Jadi penginnya tersenyum dan tertawa bahagia.
Heran dan geli juga dengan sensasi yang ternyata berbeda-beda ini.
Kali ini saya pada dasarnya tidak membawa masalah khusus, walaupun sampai detik ini saya juga belum menikah, tapi saya menganggap itu bukan masalah. Allah punya waktu tersendiri untuk saya. Menjalani ibadah dengan ringan dan senang hati, berdoa hal-hal yang umum untuk kesehatan, mohon diberi ilmu, rejeki yang halal dan barokah, mohon diberi yang terbaik dan akhir yang khusnul khotimah. Untuk hal-hal yang khusus, sekali lagi rasanya malu kepada Allah kalau masih minta yang "kecil-kecil" karena Allah sudah beri saya yang "besar-besar", nikmat Allah sudah luar biasa banyak. Secara umum, mohon diberi yang terbaik, karena Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk saya.
Perjalanan kali ini, "pesan" yang Allah sampaikan adalah Surat Al Kahfi, karena ketika datang pertama untuk sholat Jum'at, sebelah saya orang turki bilang kepada saya untuk baca surat Al Kahfi. Dan terakhir ketika akan pulang, surat terakhir yang saya baca juga surat Al Kahfi, setelah urut dari pertama Surat Al Baqarah dan seterusnya. Sejujurnya saya belum bisa sepenuhnya "menangkap" pesan yang kali ini. Mungkin tentang ilmu dan keteguhan iman, berdasarkan Ahl Kahfi dan cerita Nabi Musa dan Nabi Khidir.
Setelah dari Mekah - Medinah, akhirnya kesampaian juga untuk menggenapkan "The Big 3 Mosque". Walah, rasa syukur ini tidak ada habis-habisnya.
Dan ketika pulang kembali ke rumah, rasanya sudah pengin berangkat lagi. Tanah suci seperti "candu" yang selalu menarik hati untuk kembali datang kesana.
Ya Allah, semoga saya bisa selalu kembali ke tanah suci, baik untuk umroh maupun haji, juga untuk semua teman dan saudaraku yang belum maupun yang sudah, semoga mereka Engkau ijinkan untuk datang ke Tanah Suci. Amin.
Untuk yang pernah kesana, pasti bisa merasakan, bahwa dunia ini memang benar hanya kesenangan sesaat yang menyesatkan. Keindahan dunia tidak akan mengoda jika dibandingkan kenikmatan ketika berada di Tanah Suci. Allahu Akbar.
Komentar
Posting Komentar