Saya percaya bahwa Allah memberi pelajaran kepada kita melalui perjalanan hidup masing-masing. Setiap orang, setiap keluarga memiliki masalahnya sendiri-sendiri, dari situlah Allah memberi pelajaran kepada kita. So ... seharusnya kita tidak bisa menilai orang lain lebih buruk dari kita, karena perjalanan hidupnya tidak sama. Jika kita dihadapkan pada permasalahan yang sama, belum tentu kita bisa menghadapinya sebaik orang itu mengatasinya. Ini adalah PR pertama saya, belajar untuk tidak menilai orang lain, tapi lebih untuk menghargai dia apa adanya.
Pernah saya merasa bahwa urusan ringan adalah urusan manusia, dan urusan berat baru menjadi urusan Allah. Contoh : ketika kita makan, mengambil nasi dengan sendok dan menyuapkannya kedalam mulut adalah hal biasa dan enteng sekali untuk dilakukan, jadi itu sudah menjadi rutinitas yang berjalan tanpa dipikirkan lagi.
Akhirnya Allah memberi saya pelajaran ketika Ibu sakit, kita berusaha semaksimal mungkin dengan semua sumber daya yang ada. Tapi ada suatu titik dimana dokter angkat tangan, dan kita semua juga merasa tidak berdaya. Pada saat itu baru pasrah yang sesungguhnya pasrah menjadi terasa. Bahwa kita merasa sombong untuk bisa menyembuhkan Ibu dengan semua dokter dan obat yang terbaik. Tapi sesungguhnya keputusan mutlak berada di "tangan" Allah. Saat itulah saya menyadari, bahwa sekecil apapun sesuatu itu, semua terjadi atas ijin Allah (misal menyendok makanan tadi). Bahwa kita adalah makhluk lemah yang tidak punya kuasa apapun, sedikitpun. Jadi tidak bisa kita menjadi sombong bahwa harta, kepandaian, jabatan, semua kita dapat karena usaha kita sendiri. Setelah menyadari itu, hidup rasanya menjadi tenang sekali, karena ada Kekuatan Yang Maha Besar yang akan selalu menjadi sandaran kita, dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun.
Ada saat dimana seseorang diberi kelimpahan yang luar biasa, itu semua adalah ujian, bagaimana orang tersebut memanfaatkan kelebihan yang ada, apakah digunakan untuk kebaikan orang banyak, atau dipakai untuk memuaskan kepentingan dan egonya sendiri. Semua itu hanya titipan.
Ada pula saat dimana seseorang berada pada titik bawah, itu juga ujian, apakah kita bisa sabar menjalaninya dan tetap bisa bersyukur, karena rejeki Allah tidak selalu berupa materi, tetapi juga kesehatan, keselamatan, pertolongan dan kemudahan yang Allah berikan.
Sungguh tidak mudah, tapi pelajaran tertinggi adalah ketika kita bisa mengambil hikmah dari suatu peristiwa (yang paling buruk sekalipun), dan tetap merasa bersyukur dengan semua kelimpahan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Tapi seringkali kita menyesali apa yang tidak kita punya, daripada mensyukuri apa yang telah kita miliki.
Pelajaran untuk diri sendiri, dan semoga bermanfaat untuk orang lain.
Pernah saya merasa bahwa urusan ringan adalah urusan manusia, dan urusan berat baru menjadi urusan Allah. Contoh : ketika kita makan, mengambil nasi dengan sendok dan menyuapkannya kedalam mulut adalah hal biasa dan enteng sekali untuk dilakukan, jadi itu sudah menjadi rutinitas yang berjalan tanpa dipikirkan lagi.
Akhirnya Allah memberi saya pelajaran ketika Ibu sakit, kita berusaha semaksimal mungkin dengan semua sumber daya yang ada. Tapi ada suatu titik dimana dokter angkat tangan, dan kita semua juga merasa tidak berdaya. Pada saat itu baru pasrah yang sesungguhnya pasrah menjadi terasa. Bahwa kita merasa sombong untuk bisa menyembuhkan Ibu dengan semua dokter dan obat yang terbaik. Tapi sesungguhnya keputusan mutlak berada di "tangan" Allah. Saat itulah saya menyadari, bahwa sekecil apapun sesuatu itu, semua terjadi atas ijin Allah (misal menyendok makanan tadi). Bahwa kita adalah makhluk lemah yang tidak punya kuasa apapun, sedikitpun. Jadi tidak bisa kita menjadi sombong bahwa harta, kepandaian, jabatan, semua kita dapat karena usaha kita sendiri. Setelah menyadari itu, hidup rasanya menjadi tenang sekali, karena ada Kekuatan Yang Maha Besar yang akan selalu menjadi sandaran kita, dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun.
Ada saat dimana seseorang diberi kelimpahan yang luar biasa, itu semua adalah ujian, bagaimana orang tersebut memanfaatkan kelebihan yang ada, apakah digunakan untuk kebaikan orang banyak, atau dipakai untuk memuaskan kepentingan dan egonya sendiri. Semua itu hanya titipan.
Ada pula saat dimana seseorang berada pada titik bawah, itu juga ujian, apakah kita bisa sabar menjalaninya dan tetap bisa bersyukur, karena rejeki Allah tidak selalu berupa materi, tetapi juga kesehatan, keselamatan, pertolongan dan kemudahan yang Allah berikan.
Sungguh tidak mudah, tapi pelajaran tertinggi adalah ketika kita bisa mengambil hikmah dari suatu peristiwa (yang paling buruk sekalipun), dan tetap merasa bersyukur dengan semua kelimpahan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Tapi seringkali kita menyesali apa yang tidak kita punya, daripada mensyukuri apa yang telah kita miliki.
Pelajaran untuk diri sendiri, dan semoga bermanfaat untuk orang lain.
Komentar
Posting Komentar